Thursday, March 8, 2012

Amin-Ismie-Benny

Dan akhirnya..
Berujung pada perpisahan juga.

Terkesan menggelikan ya? Jika belum apa-apa, saya sudah mengawali wacana ini dengan kata "akhirnya". Tapi jika saja kalian tahu sejarah perjalanan love story saya, mungkin tak perlu begitu mengernyitkan dahi. Karena makna "akhirnya" ini (bisa jadi) justru babak awal perjalanan saya lainnya.

Untuk orang yang mengenal saya, kemungkinan memahami atau bahkan menyaksikan, betapa saya dan Emyan, lelaki yang lebih dari lima tahun menjadi "paket komplit" dalam hidup saya, telah melalui proses hubungan yang begitu melelahkan.

Saya senang menyebutnya dengan "paket komplit". Karena jangka waktu lima tahun lebih dari cukup untuk menjadikan Emyan, tidak hanya sebagai kekasih unya-unyu, yang kepadanya saya bisa berharap setangkai bunga mawar segar, janji setia abadi di atas pelaminan dan semacamnya. Bagi saya, lima tahun kami, mampu menjadikan Emyan menjelma menjadi sahabat, kakak laki-laki bahkan musuh terbesar saya. That's why i called him, my complete stuff!

Tetapi, apa yang bisa diduga di dunia yang semua kuasa bergantung pada Sang Kreator Sempurna. Lima tahun pun tak mampu menjamin apapun bagi hubungan kami. Tepat satu minggu sebelum saya dan Emyan memasuki tahun kami yang ke-enam, kesepakatan untuk menyudahi 'kelimatahunan' kami pun menjadi pilihan terbaik saat itu.

Terus terang, atas alasan apapun. Saya tak begitu tertarik membahas terlalu dalam, apa dan mengapa 'kelimatahunan' ini harus berakhir. Mungkin jika suatu saat kalian beruntung bertemu saya, akan saya ceritakan detail persisnya.

Saya lebih tertarik mengungkit siapakah orang-orang di balik layar, yang menurut saya begitu berjasa. Orang-orang yang membuat saya tak terlalru larut mengharu-biru atas kehilangan 'paket komplit' tadi.

Tak sedikit orang yang terasa begitu bersimpati atas keputusan saya dan Emyan. Mereka seperti Haqqul-Yaqin kalau saya begitu terpukul dengan kejadian itu. Kalimat-kalimat "bela sungkawa" yang ditujukan pada saya pun mengalir deras.

" Ah? Gila.. Masa sih elo putus? elo berdua kan unbreakable gitu, pasti elo sedih banget ya, Vin. sabar ya sayang"

"Ya Ampuunn.. i'm sorry to hear that! Gw sedih deh dengernya, apalagi elo ya? Sabar ya Beb.. *peluk-pelukVina*!"

"HAH! Bukannya elo berdua mau merit ya tahun ini? Haduhh.. yang sabar ya!"

Bla..bla..bla..bla..

Well, biar bagaimanapun saya berterima-kasih dengan semua kalimat "bela sungkawa" tadi. Setidaknya mereka mengucapkan semua itu tidak dengan gaya khas om Mario Teguh atau dengan se-buket karangan bunga dengan tittle "Turut Berduka Cita". Tapi biar lah prasangka-prasangka bahwa saya merupakan objek penderita menari dalam kepala mereka. Meski pengen banget rasanya, saya teriak dihadapan mereka, " HEY I LITERALLY OKEY! DON'T RUIN MY "OKEY" WITH YOUR CONDOLENCE WORDS." Kata-kata haru-biru yang justru memberikan peluang bagi saya untuk menangisi keadaan. THE BIG H-E-L-L NO!

Di saat sebagian orang ribut dengan kalimat bela-sungkawa tadi. Beberepa orang justru datang dengan mantra penguatnya. Orang-orang yang kemudian bagaikan "vitamin" untuk saya, yang jika tidak meminumnya, saya lemas.

Saya selalu mengagumi firman Tuhan yang bermakna bahwa rezeki Tuhan terkadang akan datang justru dari arah yang tak terduga. Kalau dari arah tak terduga saja rezeki-Nya bisa datang, apalagi dari arah yang memang sudah seharusnya, bukan?

Amin, Ismi dan Benny. Adalah yang saya sebut sebagai 'vitamin'. Lebih dari itu, mereka bagai laskar-laskar hati saya yang sedikitpun seperti tak rela membiarkan hati ini mengharu-biru. Orang-orang yang pada akhirnya saya sadari berpengaruh besar pada proses healing hati saya. Tahukah kalian? Bahwa ketiga orang baik ini bahkan tak mengenal satu sama lain. Mereka datang dari berbagai macam history dalam hidup saya. Amin dan Ismi, memang sejak lama, jidatnya berstempelkan 'laskar hati' untuk saya. Mereka sudah sering 'menikmati' momen-momen pahit manis hidup saya. Merekalah rezeki saya dari Tuhan yang datangnya dari arah yang sudah terduga. Dan, Benny, pria bersuara bariton ini, adalah new comer dalam sejarah hidup saya. Benny-lah yang kemudian saya sebut dengan rezeki Tuhan yang datangnya dari arah tak terduga sebelumnya. Mereka ber-tiga yang membuat satu bulan paska perpisahan saya dengan Emyan berjalan sangat manis. Mereka mewarnai kelabu hati saya dengan pensil warna mereka masing-masing. Dan berhasil!

Bahkan saat akhirnya, tak kurang dari sebulan Emyan sudah memiliki pengganti saya. I CAN STAND UP ON MY OWN FEET AND I'M SURE THAT I'M OKEY. Lebih tepatnya, Amin-Ismie-Benny, yang membuat saya bisa baik-baik saja. Seperti yang pernah saya ungkapkan, mereka hadir dengan kekhasan pribadi mereka masing-masing.

Amin dengan segala kebijaksanaan dan permusyawaratannya bilang :
"Apa yang bikin elo sedih dengan dia (sudah) punya pacar lagi?" Hanya kalimat pertanyaan inilah yang Amin ajukan saat itu. Kalimat yang tak sampai satu detik ia ucapkan, dan tak mampu saya jawab. Entah mengapa, tapi saat itu saya sungguh tak punya alasan logis untuk menjawab pertanyaan Amin. Dan ini kabar baik bagi hati saya. Artinya memang tak ada lagi yang patut dan perlu ditangisi atas hilangnya Emyan dari hidup saya, bukan?

Ismie dengan segala 'keliarannya', dia bilang:
"Akkhh! Orang kalo udah dablek mah dablek aja, Vinaaa! Dengan dia punya pacar lagi dalam waktu singkat begini, it's so obvious, he doesn't deserve to you, AT ALL!

Lalu, Benny, dengan segala keunyuannya, bilang :
"HEY BEBITA!!, denger ya.. mau dia punya pacar lagi kek, mau dia jungkir balik kek, mau dia jadi tukang siomay kek, itu udah bukan urusan kamu lagi, buang-buang tenaga amat dipikirin, sini mending bbm-an sama aku aja." Hahhaa.. kelabilan Benny yang saat itu lagi bermasalah sama pacarnya, emang kadang bikin advice-advice yang keluar dari jempol atau mulutnya terdengar absurd abis. Tapi that's okey, toh Benny dengan caranya tetep bisa bikin saya nyaman cerita banyak hal kok.

Hari-hari pada satu bulan pertama, paska putus, Amin-Ismie-Benny lah yang jadi jajaran teratas di chat list bbm saya. Di tiap detik, tiap menit hingga kalkulasi hari, nama-nama mereka lah yang bisa dipastikan muncul di chat list saya.

Amin yang bekerja sebagai Head Division Forester di salah satu perusahaan ternama di Pontianak, harus bersusah payah jungkir balik mencari signal untuk berkomunikasi dengan saya. Dan semua itu terkadang hanya untuk memastikan bahwa saya dan hati saya dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Ismie disela-sela kesibukannya melayani nasabah, dia selalu punya waktu untuk membalas dan meladeni messages saya, meski kadang messages yang saya kirimkan hanya berbentuk emoticon 'air mata'

Lalu, Benny, mantan barista Starbuck yang kini merintis jadi marketer di sebuah perusahaan farmasi di Bogor, selalu jadi insan paling pagi yang membuat Blackberry saya berbunyi. Meski sekedar greetings dan mengingatkan saya agar tidak lupa sarapan sebelum berangkat kerja.

Amin-Ismie-Benny lah laskar-laskar hati saya. Mereka bahkan membuat saya tak punya waktu untuk menyesali perpisahan saya dan Emyan. Mereka datang tak melulu dengan kata-kata motivator bak Mario Teguh Golden Ways. Mereka menemani melewati hari-hari proses healing saya dengan cerita-cerita mereka, joke-joke garing mereka, bahkan umpatan-umpatan mereka.

Amin dengan permasalahan hutan, keluarga dan juga calon isterinya. Ismie dengan kisah baktinya dalam membahagiakan keluarganya seorang diri, juga dengan kisah cintanya yang terhalang perbedaan agama. Lalu Benny, dengan kisah thawaf keliling rumah sakit demi menawarkan produknya untuk para dokter ataupun kisah tragis masa lalunya.

Kami bersinergi dalam berbagi. Saya dan Amin. Saya dan Ismie. Saya dan Benny. Dengan pensil warna yang mereka miliki, mereka tidak hanya berhasil mewarnai hari-hari (yang sebagian besar orang menyangka) suram, tapi juga berhasil mendidik saya untuk tidak sedikitpun menyesal bahkan membenci bagian hidup yang pernah saya lalui bersama Emyan. Mereka mengajari saya untuk tidak menangis tanpa dendam.

Satu hal yang belum sempat saya tanyakan pada mereka. Jika selama ini, mereka memberikan begitu banyak manfaat, bagi hati dan pikiran saya. Apakah saya juga demikian bagi mereka? Ah! Meski saya yakin tidak, tapi saya berjanji, suatu saat saya harus. Saya (semestinya) ada jika mereka membutuhkan saya. Saya ingin mereka tahu rasanya memiliki laskar hati dalam hidup mereka. Saya ingin mereka juga bisa merasakan kekhidmatan bersyukur memiliki rezeki-rezeki Tuhan, baik dari arah terduga maupun tidak.

Terima kasih Amin. Terima kasih Ismie. Terima kasih Benny. And last but not least.. Terima kasih Tuhan :)

Thursday, August 18, 2011

Michael Andrew Nielsen

Saya faham! Faham betul jika perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Tapi setiap kali hal itu datang di hidup saya, demi Tuhan, saya ingin sekali men-skip-nya. Saya ingin bersembunyi atau berlari agar si perpisahan itu tak akan pernah mengenal saya.

Dan kali ini, keniscayaan itu pun tak dapat tertolak. Di ruang cerita ini, saya ingin berbagi, menyampaikan kesedihan atas kepergian satu orang baik yang pernah saya kenal.

Saya sedih (jika tak ingin saya akui bahwa saya menyesal) atas kepergiannya. Karena selama dia ada, bekerja satu atap di kantor kami, saya hampir tak pernah berbuat baik, mungkin tepatnya tak bisa berbuat jujur untuk berkelakuan baik. Saya selalu bertampang masam, menghinanya di jejaring sosial, menyebutnya sebagai lelaki sensitif dsb.

Dan tibalah saat itu, saat ketika dia harus pergi, pergi jauh (bukan mati). Pulang ke negaranya yang terletak jauh ribuan mil dari sini. Ketika beberapa orang di kantor saya memilih menangisi kepergiannya, sebelum pertemuan terakhir itu, saya memilih memberanikan diri menigirimkan sebuah catatan di kotak emailnya :

"Do you know Abang? I’m still wishing that your decision about resignation was just the nightmare that won’t really happen when I wake up from my sleep. When we, all of staff, received the email from Alan that informed us about your resignation. No one of us weren’t sad. But I thougt that I was the one who had the worst feeling at the time. How I wasn’t?? I’ve just known you, not even for 6 months, then you’ve just said that u want to leave.

Do you know Abang? Honestly, You’re the best BULE that I’ve ever known. A moments ago, When I haven’t worked at EF, I’m the haters of BULE!! I thought that every BULE are rude, speak like they’re yelling, disrespectful and they don’t even care with each other, SELFISH! But you know? I never find that things on you abang. Yeaahh.. though you do often look so annoying with your perfectionist things while you do your work as a DOS :p

I’m so deeply sad Abang, Truly sad!! Since I joined in EF Pesanggrahan, one by one “my family” left me behind. Ibu Yoke, Lulu and now, its you!!
I definitely know, a separation is a certain thing. But one that really make me sad, that is happened in same time. Do you know how it feels, Abang? It feels like you lost the one part of your body. It hurts, right? So much hurts.

It will be so hard for me to imagine how it feels when I dialed 108 and there’s no more you pick up my call. When I through your office room at 3rd floor, and there’s no more you who sit there. No more BULE calls me “Mbak”, no more bule who calls “LOLA” or "LEBAY" to me, no more BULE with his stunning smile like yours (ah ya, except Peter Parker, I think!) And of course.. No more BULE who kindly give me a ride to the bus stop.

For many times, I have to realize that separation is a certain thing and one thing that might be make me and might be other staff easily to accept your decision is we all know that you will be happier with it.
Well, Always remember us Abang. Also Garang asem, tongseng ayam, dangdut music (which Kadir often plays in every morning) and always Indonesia for sure. Someday when you back here, remember that you still have our hearts, also remember that you’re still and always part of us. Our Pesanggrahan family. Stay in touch with sending a post card or email ya Abang. And I won’t close this letter with saying good bye.."

Saturday, May 28, 2011

Pulang Kampung














Siang itu, satu hari setelah saya memutuskan resign dari pekerjaan saya sebagai wartawan harian lokal, mama tiba-tiba bertanya : “Jadi gimana? Mau ikut umroh gak bulan depan?" Saya hanya tersenyum sambil berucap : “Ikuuuuttttttttt!” ;)


Saya lebih senang menyebut perjalanan ini dengan tema pulang kampung. Karena perjalanan ini, betul-betul membuat saya atau siapapun yang mengalaminya, merasa dekat sekali dengan Tuhan. Dan kembali kepada Tuhan merupakan makna pulang kampung yang sebenarnya, bukan?

Pulang kampung kali ini memang bukan perjalanan saya yang pertama. Tahun 1997, saat masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, saya sempat berkunjung ke Tanah Haram. Tapi entahlah, sejak mempersiapkan surat-menyurat, packing barang hingga tiba di dalam kabin pesawat, jantung saya berdetak tak seperti biasanya. Saya terlalu excited dan terharu seperti baru pertama kali pulang kampung rasanya.

Bersama 31 jemaah lainnya, Saya dan mama bertolak ke Jeddah dengan pesawat Royal Brunei. Pesawat ini mengharuskan kami untuk transit di Bandar Seri Begawan selama 2 jam sebelum akhirnya tiba di Jeddah. Sejak awal keberangkatan, ketua rombongan sudah menginfokan bahwa perjalanan ini akan mengambil route Jeddah-Mekkah-Madinah. Berarti besar kemungkinan kami akan mengambil miqot (niat umroh/berihram) di atas pesawat. Dan waktu transit selama 2 jam di Brunei, kami pergunakan untuk mengganti pakaian biasa dengan ihram, karena sulit dibayangkan jika harus berganti pakaian di dalam pesawat.

Sekitar 1 jam sebelum tiba di Jeddah, kami dikomando untuk mulai mengambil miqot, atau mulai melafazkan niat umroh. Dengan ihram di badan dan lafaz niat umroh, kami sudah wajib mengikuti syarat sahnya umroh. Seperti tak boleh memakai wewangian, tak boleh sikat gigi, tak boleh dandan, hingga tak boleh ada rambut yang berjatuhan,

Setelah lebih dari 10 jam perjalanan udara, sekitar pukul 16.00 waktu Jeddah. Kami pun tiba di King Abdul-Azis International Airport, Jeddah. Meski terlihat lebih mewah dibanding Bandara Soekarno-Hatta, saat menginjakkan kaki di sana, saya langsung rindu dengan keramahan tanah air. Keramahan alamnya yang hijau hingga keramahan masyarakatnya. Sejauh mata memandang, Jeddah hanya diselimuti hamparan pasir. Tanah di sana betul-betul tandus. Orang-orang di sana pun tak seramah orang Indonesia, bicara saja harus berteriak. Kadang saya sulit membedakan mana saatnya mereka marah mana yang bukan.

Jeddah menuju Mekkah memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan darat. Saya sebetulnya ingin sekali melihat dan mendokumentasikan suasana kota Jeddah, hanya saja mata dan kepala saya terasa berat sekali waktu itu, saya hanya sempat menyimpulkan bahwa pembangunan kota Jeddah terlihat jauh berbeda dari 14 tahun (jelas saja!). Sepanjang perjalanan menuju Mekkah, bangunan Mall, supermarket, outlet pakaian dan toko karpet berjajar rapi. Tentu saja pemandangan ini terlihat saat mata saya masih mampu terbuka, selebihnya saya tidak mengetahui banyak ada apa saja di kota Jeddah.

Lebih dari 4 jam perjalanan, bus kami pun akhirnya tiba juga di depan bangunan sembilan lantai dengan neon box yang berdiri tegap bertuliskan "al-Haram Hotel". Hotel inilah yang akan menjadi salah satu saksi perjalanan indah ini.

Al-Haram Hotel terletak persis di tengah-tengah keramaian pasar. Kalau saya tidak salah ingat, nama wilayahnya adalah Misfalah. Daerah ini hanya berjarak sekitar 100 meter ke Masjidil Haram. Sangat Strategis.

Saat tiba di kamar hotel, masih dengan baju ihram dan dalam keadaan miqot, saya pun harus menelan kekecewaan. Menstruasi saya yang sudah habis satu hari sebelum keberangkatan, harus datang lagi. Tentu saja itu semua memaksa saya untuk membatalkan miqot saya. Dan hal ini berarti pula, saya gagal menunaikan rangkaian ibadah umroh (tawaf dan sa’i) saya di malam pertama ini. Saya menenangkan diri dengan terus berdoa semoga selama 4 hari ke depan, masa menstruasi akan berkahir, sehingga saya bisa tetap menyusul menunaikan rangkaian umroh, meski harus melaksanakannya sendiri tanpa jemaah lainnya.

Iri sekali rasanya,ketika keesokan harinya, jemaah lain sibuk bercerita tentang kedahsyatannya melihat ka’bah dan berhasil menyelesaikan rangkaian ibadahnya di hari pertama di Mekkah. Sudah menyelesaikan rangkaian umroh di malam pertama, selanjutnya hanya mengkhusyu'kan diri dengan ibadah sunnah lainnya. Sedangkan saya, malam pertama di Mekkah hanya saya habiskan di kamar hotel, tidur.

Saya baru bisa menatap ka’bah secara langsung, di hari kedua saya di Mekkah. Itupun masih dalam keadaan belum suci. Ketika akhirnya saya bisa menatap keanggunan ka’bah secara langsung, saya hanya mampu sujud syukur lalu berdoa. Tidak seperti jemaah lain yang bisa langsung sepuasnya solat sunah hajat di depan Multazam (pintu ka’bah).

4 hari di Mekkah mungkin tidak cukup untuk menuangkan kerinduan saya pada tanah Haram ini. Tapi saya kira cukup untuk sedikit bercerita bagaimana kondisi terakhir Mekkah saat saya kunjungi kemarin.


Mekkah kini dengan 14 tahun lalu, tentulah mengalami banyak perbedaan. Negeri Arab dengan segala kekayaannya sangat mudah untuk menyulap tanah Mekkah menjadi begitu “maju”. Bagaimana tidak “maju”? jika kini sejauh mata memandang hanya bangunan tinggi semacam hotel dan apartemen yang mengelilingi Masjidil-Haram.

Tahukah anda jika jam tertinggi di dunia yang dulu terletak di London, kini menjadi milik kota Mekkah? Ya. Jika dulu kita mengenal Big Ben dengan ketinggian 100 meter diklaim sebagai jam tertinggi di dunia, kini Mekkah bahkan berhasil membangun jam dengan tinggi enam kali lipat dari tinggi Big Ben. Jam setinggi 600 Meter itu berdiri anggun persis di depan Main Entrance Masjidil haram. Jam itu terletak di antara 7 menara bangunan apartemen yang baru saja selesai dibangun. Apartemen tersebut dilengkapi dengan pusat perbelanjaan serta café-café termashyur dunia. Entah siapa pemilik ide di balik semua ini. Jujur saja kemewahan tadi menjadi begitu menyedihkan bagi saya. Bangunan mewah itu sungguh seperti ingin menandingi kemegahan Masjdil Haram. Meskipun sejatinya, tanpa “kemajuan” seperti tadi, Mekkah dan Masjidil Haram akan tetap memiliki kemegahan tersendiri di hati pengunjungnya.

Pembangunan pun tak terhenti di situ. Pemerintah Saudi pun terus memperluas area Masjidil Haram. Pasar serta perumahan warga yang letaknya dekat dengan Masjidil haram sudah dipastikan rata dengan tanah. Pasar Seng yang 14 tahun lalu menjadi tempat favorit saya membeli es krim pun tak ada lagi. Namun, tak seperti di Indonesia, ganti untung yang diterima masyarakat korban penggusuran pun tak kira-kira. Bisa mencapai 1 milyar per-bangunan. Sehingga kericuhan demonstrasi untuk menuntun ganti rugi pun bisa dipastikan tak akan ada.

Lepas berkhidmat menatap dan berdo'a di depan ka'bah, di hari kedua ini, kami berziarah mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Kota Mekkah. Kalau saya tidak salah ingat, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, bukit tempat persembunyian Rasul saat dikejar kaum kafir Quraisy. Tempat ziarah kedua adalah Jabal Nur, Bukit yang didalamnya terletak Goa Hira, tempat Rasul mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya. Tempat yang juga menjadi saksi keanggunan Siti Khadijah dalam balutan kesetiaannya mendampingi suaminya, Muhammad saw. Di kedua tempat ini kami tidak diizinkan turun oleh ketua rombongan kami. Suasana gurun yang penuh pasir serta hawa Mekkah yang panas di siang hari membuat ketua rombongan kami khawatir akan kesehatan para jema’ah.

Kami baru diizinkan turun dari bus yang kami tumpangi saat berkunjung ke Jabal Rahmah. Bukit yang diyakini tempat pertemuan Adam dan Hawa. Sulit menggambarkan bagaimana kondisi Jabal Rahmah saat ini. Tapi yang pasti sangat menyedihkan.

Tanpa mengurangi hormat saya pada catatan sejarah tempat tersebut, Jabal Rahmah kini tak ubahnya seperti tempat kumuh tak terawat. Kotor dan bau. Belum lagi banyak jema'ah dari berbagai macam Negara sengaja mencoret-coret dinding putih bangunan Jabal Rahmah. Tulisan yang kerap kali dituliskan adalah nama laki-laki dan perempuan, dengan tujuan agar mereka berjodoh. Ah! Saya atau mungkin juga Anda pasti berpikir, aksi pengkultusan terhadap sesuatu seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi juga di tanah haram. Padahal cukuplah kita menyadari tanah haram merupakan tanah penuh barokah yang bahkan berucap dalam hati pun keinginan kita mudah sekali terijabah.

Selepas mengunjungi Jabal Rahmah, kami ke Arafah. Tempat perkumpulan manusia dari berbagai ras dan suku bangsa saat musim haji tiba. Tentu saja, saat kami berkunjung ke sana, Arafah tampak sepi. Hanya terlihat tenda-tenda putih yang kerap kali digunakan jem’aah saat wukuf di musim haji.

Pembangunan pun tak hanya terjadi pada Masjidil Haram dan sekitarnya.Di Arafah, tanda-tanda bahwa pemerintah setempat sedang merekonstruksi pun jelas terlihat. Tak jauh dari lokasi wukuf, terlihat jejeran tiang-tiang pancang berukuran besar. Tiang-tiang itu merupakan cikal bakal project monorail yang akan menghubungkan Arafah, Mina dan Muzdalifah. Proyek diperkirakan akan rampung 5 tahun ke depan. Monorail ini diharapkan mampu meminimalisir kepadatan atau kemacetan yang selalu saja terjadi saat musim haji.

Satu hal lagi yang menarik pemandangan mata saya, kota Mekkah yang terkenal tandus, kini sudah banyak ditumbuhi tumbuhan hijau. Meski tak banyak wilayah yang diselimuti tumbuhan, tapi taman bunga dan rerumputan sudah bisa kita nikmati di tengah-tengah kota. Konon, untuk menghijaukan kota Mekkah, pemerintahnya harus mengimpor rumput dan bunga tadi dari Thailand dengan harga yang tidak murah. Ah! Nikmat Tuhan manakah yang mampu masyarakat Indonesia dustakan? Jika negaranya dianugerahi tanah subur dengan segala keindahan tumbuhan yang hijau.


Setelah hampir seharian berkeliling Kota Mekkah, kami ber-miqot lagi, miqot kali ini dilakukan di sebuah masjid di Ja’ronah. Bagi saya yang sejak kedatangan di Mekkah belum menuntaskan rangkaian umroh, maka miqot ini merupakan niat untuk berumroh wajib, sedangkan untuk jemaah lainnya, miqot ini dilakukan untuk berumroh sunnah.



Lagi-lagi saya harus menelan kesedihan. Miqot saya terpaksa dibatalkan karena menstruasi saya yang belum usai. Tidak terbayangkan penyesalannya jika nanti saya harus meninggalkan tanah haram tanpa menuntaskan umroh wajib. Sambil berdoa, saya terus memohon tobat kalau-kalau kejadian ini merupakan teguran dari kekhilafan saya.

Saya ingat, saat masih di tanah air, mama yang mengetahui jadwal mens saya bersamaan dengan jadwal keberangkatan umroh, ribut sekali memaksa saya mengkonsumsi ini itu untuk mempercepat siklus mens saya. Saya yang tidak bisa sabar menghadapi keribetan mama itu, sempat berucap dengan nada ketus :”Ya sudahlah mama, kalaupun nanti mens di sana, anggap saja jalan-jalan nemenin mama ibadah.”
Mengingat hal tersebut, saya tidak henti beristighfar memohon ampunan-Nya. Karena jika saja ucapan saya itu terkabul, entah bagaimana penyesalan saya. Bayangkan, jauh-jauh mengunjungi tanah haram, sedikitpun rangkaian umroh wajib tak mampu saya selesaikan. Saya tak berhenti berbisik kepada Tuhan : “Ya Allah, hamba mau menuntaskan rangkaian umroh hamba di tanah haram-Mu dengan sempurna”

Mintalah kepada-Ku, maka (pasti) akan kuperkenankan. Tuhan tak pernah mengingkari janji-Nya. Alhamdulillah, tepat di hari terakhir saya di Mekkah, mens saya berhenti. Di malam itu pula saya bisa menyelesaikan rangkaian umroh saya dengan (insya allah) sempurna. Allahu Akbar!
Tak ada yang lebih menyedihkan selain meninggalkan kehikmatan bercinta dengan pencipta. Namun. rela-tak rela, mau tak mau saya harus pergi meninggalkan kota dengan seribu kemuliaann ini, Mekkah al-Mukarromah. Sampai kapanpun, saya akan selalu rindu dengan kedahsyatan perasaan yang tidak mampu terlukiskan ini. Perasaan damai yang mampu membuat saya mengurai air mata tanpa sedikitpun saya tahu apa penyebabnya. Perasaan haru dan bahagia yang tak bernilai saat mampu menatap, mencium dan berdoa dengan sepuas hati di hadapan bangunan warisan Nabi Ibrahim as itu.

Demi Tuhan, ijinkan saya kembali dalam keadaan yang lebih baik Ya Ghafaar.

Wednesday, March 9, 2011

je a ja el ele

Jale ! siapa yang tahu makna dari kata tersebut? Jika Anda seorang pewarta tentunya sudah tak asing lagi dengan kata ini. Sejujurnya saya pun bingung jika harus menjabarkan makna Jale ini ke dalam sebuah kalimat sempurna. Mungkin karena saya masih seorang pewarta abal-abal. Sehingga jangankan mengerti hakikat dari Jale itu apa, mengungkapkan arti kata Jale saja rasanya sulit 

Well ! Sejauh ini yang saya ketahui terkait Jale adalah Uang!! Yap.. uang yang seringkali diterima pewarta dari berbagai narasumbernya. Baik setelah maupun sebelum peliputan. Saya mengenal istilah ini ketika saya berkesempatan menjadi pekerja kontrak sebagai seorang reporter di sebuah perusahaan televisi swasta.

Entah dari mana awalnya kata Jale ini bersumber. Yang pasti Jale ini terkadang menjadi satu compliment yang tak bisa dipisahkan dari profesi pewarta. Paling tidak begitulah asumsi saya. Oleh sebab itu, jangan heran jika dibeberapa tayangan berita televisi, seringkali diinformasikan jika wartawan tv “anu” dilarang menerima pemberian apapun dari narasumber. Informasi seperti ini dirancang dengan berbagai macam kalimat dan cara tentunya.

Perihal jale ini memang sudah lazim di dunia pewarta. Ketika pertama kali saya mengikuti training reporter di tv swasta tersebut pun, hal pertama yang diwanti-wanti sang pemimpin redaksi pun adalah larangan menerima Jale. Salah satu alasan kuatnya tentulah terkait dengan keindependensian berita yang dibuat pewarta.

Saat saya pun mulai terjun langsung ke lapangan. Fenomena jale ternyata memang dekat bahkan sangat dekat dengan profesi kami sebagai pewarta. Jale terkadang sungguh tak mengenal tempat. Jale ada di instansi-instansi pemerintah, di perusahaan swasta, di pribadi anggota DPR bahkan hingga ke tingkat RT sekalipun.

Ah! Tulisan ini sungguh tak bermaksud banyak mengungkap fenomena Jale dalam profesi kami. Apalagi mengungkap desas-desus si pemred saya tadi pernah menerima jale atau tidak. Biarlah Anda mencari tahu sendiri. Atau jika ada kesempatan, melamarlah sebagai seorang pewarta di satu perusahaan media. Mungkin akan membantu Anda mengetahui lebih dalam perihal fenomena Jale ini 

Saya sebetulnya hanya ingin sedikit mengeluarkan unek-unek saya terkait kejalean tadi. Semoga Anda tidak bosan apalagi sampai melengos membaca unek-unek saya ini.

Meski saya sudah dibekali dengan wanti-wanti sang pemred di awal training saya sebagai reporter dulu. Namun fakta di lapangan memang sulit sekali menghindari godaan dan cobaan dalam menerima jale. Si narasumber pun terkadang dengan berbagai macam cara memaksa kami untuk tetap menerima pemberiannya itu. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang bilang “Buat uang bensin”, “Buat uang pulsa”, “buat uang makan”, “buat tambahan bayar kosan” atau ada yang to the point bilang “Nih, biar kamu tulis yang bagus-bagus aja tentang saya”.

Godaan jale ini makin sulit sekali dihindari ketika saya bergabung di salah satu koran harian lokal. Orang-orang lokal biasanya masih haus publikasi, sehingga mereka rela mengeluarkan berapapun dan apapun demi dirinya, usahanya atau organisasinya di publikasikan.

Terlepas dari halam haram nya menerima uang jale. Terserah Anda mau meyakini yang mana. Hanya saja menurut saya, menerima jale sebagai compliment dari profesi pewarta sungguh tak seindah yang dibayangkan. Memang sih dompet kita jadi tak pernah kosong meski tanggal gajian masih lama. Tapi dengan uang jale, saya menjadi tak bisa istirahat tenang. Si narasumber yang merasa sudah memberikan uang tak jarang menjadi berkuasa terhadap dunia kita. Menghubungi hampir tak kenal waktu, mengatur berita yang akan saya tulis, bahkan tak berhenti sampai di situ. Saat berita tentang dirinya tayang atau terbit, gangguan-gangguan dari mereka pun belum berhenti. Mereka terus berkomentar mengenai isi berita yang salah atau kurang. Lebih dari sekedar 'MENYEBALKAN'!

Ketika hal itu terjadi, Apakah saya bisa mengelak atau melawan? Jelas saja Sulit. Terang saja saja sulit, la wong saya sudah memakan pemberian mereka secara senang hati. Dan mereka pun menurut saya tak sepenuhnya salah. Mereka sudah merasa memberikan saya uang pelicin, sehingga merasa bisa berbuat seenaknya terhadap dunia saya. Setidaknya untuk konten berita yang saya tulis.

Saya tak perlu jauh-jauh memikirkan keindependensian berita saya atau apalah yang terkait dengan Kode Etik Jurnslistik. Bagi saya ketika anda menerima jale maka bersiap-siaplah untuk tak bisa tidur nyenyak. Karena officially anda akan menjadi kacung si narasumber. Wallahua’lam 

Friday, January 7, 2011

Dari Cermin Kamar Ke Televisi

Awalnya saya berfikir jika mimpi atau cita-cita itu adalah hal yang berbeda. Mimpi adalah sesuatu yang muluk-muluk, yang teramat sulit untuk diraih karena akan hilang ketika terbangun dari tidur. Berbeda dengan cita-cita. Kalian masih mampu membantunya dengan usaha dan do'a

Sejak kecil saya ingin sekali menjadi wartawan, reporter atau apalah sebutannya. Namun saat itu, menjadi seorang wartawan bagi saya sungguh merupakan mimpi. Ya, hanya mimpi. Sesuatu yang jauh dari kemungkinan yang dapat saya raih. Entahlah, hidup dalam pola keluarga yang mentabukan wanita bekerja di luar rumah menjadikan impian saya itu hanya sekedar mimpi dan bukan sebuah cita-cita yang masih memiliki kesempatan untuk saya raih. Sekalipun dengan usaha.

Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, mimpi menjadi seorang wartawan hanya mampu saya lampiaskan pada cermin kamar. Saya bermimpi menjadi wartawan televisi. Saya sering kali bicara sendiri melaporkan apa saja dengan kata-kata apa saja di depan cermin. Kejadian ini berlangsung hingga saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika menjelang kelulusan SMA, saya tetap tak berani menaikkan derajat mimpi saya menjadi seorang wartawan sebagai sebuah harapan. Sebab itulah, saya tak berani melanjutkan pendidikan akademis saya ke Fakultas Komunikasi. Saya masih merasa menjadi seorang wartawan teramat tabu dalam keluarga saya. Saya pun akhirnya memilih Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Tafsir Hadis di UIN Syarif Hidayatullah melalui jalur PMDK. Sebuah pilihan yang membuat ayah saya bangga sekali saat itu.

Saat saya menjalani dunia akademis saya di Tafsir Hadis, menjadi wartawan tetaplah hanya sebuah mimpi. Mimpi yang sejak Sekolah Dasar hingga kuliah tetap menjadi bunga di hati saya. Meskipun kebiasaan saya berbicara di depan cermin dan berlaga seperti seorang wartawan televisi sudah tak lagi saya lakukan.

Saat saya lulus kuliah. Entah dari mana datangnya, saya mulai merasa memiliki keberanian untuk menaikkan mimpi sebagai seorang wartawan menjadi sebuah harapan atau cita-cita. Mungkin karena merasa sudah sedikit lebih dewasa, ketabuan menjadi seorang wartawan tidak lagi masuk akal bagi saya. Singkatnya, sekalipun nanti harus berdebat dengan orangtua saya, tentang tabunya dunia pewarta bagi perempuan, saya sudah bisa membela diri.

Saya pun mulai mengirim berbagai lamaran ke kantor-kantor media. Saya memang tak tertarik bekerja sesuai dengan jurusan kuliah saya dulu. Saya merasa tak begitu mahir di bidang Tafsir Hadis. Hal itu membuat saya tak memiliki rasa percaya diri untuk bekerja sebagai guru agama apalagi ustadzah.

Entahlah, tapi saya jauh lebih percaya diri melamar sebagai seorang wartawan, meskipun sadar betul dari mana saya berasal. Singkat kata, saya hanya bermodal mimpi. Ah! Menjadi seorang wartawan sudah tak lagi mimpi bagi saya saat itu, tetapi sudah menjadi cita-cita. Sesuatu yang bisa saya perjuangkan.

Siapa yang sangka? Bahkan saya pun tidak. Beberapa bulan setelah lamar-melamar itu saya lakukan. Seseorang yang mengaku salah satu staf Human Resourch Division (HRD) ANTV menelepon saya dan memanggil saya untuk ikut menjalani psycho test.

Waktu itu saya langsung mohon izin dan restu kepada ayah saya untuk mengikuti psycho test di ANTV, bagaimanapun saya sangat percaya bahwa ridho Tuhan terletak pada ridho orangtua, syukurlah beliau terlihat santai saja menanggapinya dan cenderung melunak atas berita yang saya sampaikan. Entahlah pula apa alasannya. Tuhan memang selalu bersama dengan setiap niat baik.

Lagi-lagi siapa yang sangka? Bahkan saya pun tidak! Saya berhasil lulus psycho test di ANTV dan diminta untuk mengikuti tahapan test berikutnya. Setelah lolos Psycho Test, masih ada 3 kali test wawancara, baik dengan seluruh manajer pemberitaan ANTV, HRD hingga ke pemimpin redaksi dan wakilnya. Hasilnya? Saya pun diterima.

Sejak itulah saya sedikit merasakan pekerjaan seorang pewarta, pekerjaan yang hampir tak kenal “Hak Asasi manusia”. Paling tidak ini menurut saya. Bagaimana tidak? Tak jarang saya harus bekerja mencari berita di tengah malam saat orang lelap tertidur, kembali pulang dan tertidur saat kebanyakan orang berangkat bekerja. Tak ada istilah libur lebaran. Tak kenal istilah tanggal merah. Tak kenal upah lembur.

Tapi mungkin tak ada yang menyangka, bahkan saya pun tidak! Jika pekerjaan ini sungguh membuat saya jatuh hati. Menjadi seorang pewarta bagi saya memiliki sisi kebahagiaan tersendiri. Saya tak pernah bisa menjelaskan kepada siapa pun bagaimana perasaan puas hati, saat saya berhasil mewawancarai narasumber yang sulit diwawancara atau sekedar melihat berita yang saya peroleh hari ini ditayangkan dengan menyebutkan nama saya di akhir tayangan.

Dari situlah saya menyadari, bahwa saya sungguh mencintai pekerjaan ini. Pekerjaan yang bisa membuat saya tak lagi menomor-satukan upah atau uang. Tak bisa saya jelaskan bagaimana gembiranya, ketika saya bisa menjadi penyampai berita kepada masyarakat tentang sebuah keadaan yang sedang terjadi. Melihat secara langsung proses bahkan sejarah bangsa yang terjadi setiap bulannya atau bahkan setiap hari. Bertemu bahkan bisa bercengkerama dan mengambil sebuah berita dari seorang tokoh yang kebanyakan orang hanya bisa melihatnya di televisi. Betapa bahagianya, ketika saya bisa ikut mengelus pundak atau memberikan selembar tissue untuk menghapus air mata korban sebuah peristiwa, baik kecelakaan atau bencana lainnya.

Hal-hal demikian saya rasa lebih dari cukup untuk menjadi alasan, kuhusunya bagi diri saya pribadi, mengapa saya ingin terus menjadi seorang jurnalis. Menyampaikan berita untuk masyarakat dari layar televisi tak lagi hanya mimpi bagi saya.

Ah, apapun bentuknya, baik menjadi wartawan di media elektronik maupun cetak, saya hanya ingin sedikit saja memiliki manfaat bagi orang banyak dengan menjadi seorang wartawan. Satu hal lagi, karena wartawan-lah saya percaya jika mimpi dan harapan itu bukan hal yang berbeda. Mimpi tak hanya kembang tidur, sama halnya dengan harapan dan cita-cita. Semuanya dapat berkesempatan diraih dengan usaha dan izin Tuhan tentunya. Insya Allah.

Thursday, October 14, 2010

i could say it is my blunder :D

Hari ini di semua akun online pribadi saya, penuh dengan tulisan (sampah) saya tentang Anda!! bahkan follower saya sempat protes, karena timeline-nya penuh dengan nama Anda..

Well.. di awal tulisan ini saya mau cerita sedikit kenapa saya menjadi terinspirasi menulis tentang Anda atau tepatnya tentang kita dan dengan pede-nya mempublish di beberapa akun Online saya.. Entah dari mana juga datangnya, tiba-tiba saya mendapat ide berkata-kata dan kemudian menulisnya..kata-kata yang saya tulis itu sbb:

Meski sudah empat tahun lebih, saya tetap deg-degan kalau ketemu, tetap senang dan selalu mengulang-ulang sms darinya, tetap bersemu merah tiap kali menutup telepon darinya, dan kejadian ini berlangsung dari tahun pertama hingga sekarang.

Mungkin..semua ini nikmat dari intensitas pertemuan kami yang jarang sekali terjadi.. AH! kami memang jarang sekali bertemu apalagi berduaan..seminggu sekali saja belum tentu..seringkali banyak teman-teman yang bingung dengan pola hubungan kami, karena wajarnya orang berhubungan pasti sering bertemu dan bersenang-senang berdua, tapi bagi kami khususnya saya, bisa saling mengasihi dari jauh saja sudah sangat indah!

Sesering apapun dia buat saya menangis atau marah, saya tetap bersyukur, Tuhan telah mengirimkan dia untuk saya (paling tidak untuk empat tahun ini), saya tidak meminta Tuhan harus menakdirkan dia untuk saya, saya hanya meminta dapat mengambil kebaikan dari semua perjalanan kami.

Dan.. ketika saya mem-publish tulisa ini, komentar-komentar dari teman-teman saya banyak berdatangan. Sebagian teman perempuan saya mengaku terharu dengan tulisan saya, dan teman-teman saya yang laki-laki komennya bermacam-macam.. ada yang bilang saya tidak pantas menulis demikian, karena katanya jauh sekali dengan pribadi saya sehari-hari yang cuek, yang lebih ekstrem lagi, ada teman laki-laki saya terang-terangan menuduh saya seorang PENGKHAYAL! Perempuan yang mudah terbuai oleh kata-kata lelaki, dan berharap tinggi pada sebuah KETIDAK PASTIAN..

Seperti biasa, saya tetap mencoba menutup rapat-rapat telinga dari komentar miring tentang Anda, toh jika memang (benar) Anda tidak baik, Tuhan tidak akan rela menakdirkan untuk saya, THAT'S ALL!

Thursday, September 23, 2010

uncertainly

Pagi ini seperti me-recall memories waktu jaman kuliah dulu,

pagi ini saya menaiki angkutan umum dengan jurusan yang sama ketika saya kuliah dulu, dengan keadaan yang tak jauh berbeda, jam 7 pagi dan berdesakkan dengan wanita-wanita berkerudung yang pasti satu almamater dengan saya..

benar-benar memberi space pada otak saya untuk me-recall kenangan beberapa waktu lalu,

waktu dimana, pagi mewajibkan saya mandi dan setengah berlarian mengejar kewajiban kuliah (dan saya terhitung yang paling sering terlambat)

waktu dimana, pagiku penuh penuh dengan keraguan, apakah skripsi saya akan naik bab atau tidak?

waktu dimana, aku sempat menjadi ratu dalam hatinya,

dan..waktu dimana ketidak pastian ini dimulai...............

Hari ini, sekarang, saya turun dari angkutan umum ini, di tempat yang sama seperti beberapa waktu lalu.

Langkahku pun masih sama, berlari mengejar sesuatu (yang memang sudah tak sama) hanya saja, sekarang, saya melangkah dengan "jubah corporate" tempat saya digaji.

Tapi.. dulu dan kini.. ketidak pastian itu tetap sama.. tetap setia mengiringi langkah ini..