Monday, January 7, 2013

Babe Warung

"Duduk Vin. Tunggu di warung aja. Kadir juga belum dateng."
Sambutan hangat semacam ini yang selalu 'istiqomah' tercetus di bibir Babe. Lengkap dengan seulas senyum di setiap pagi ketika saya datang kepagian di kantor namun gerbang kantor masih terkunci. Babe, Begitulah saya dan teman-teman kantor lainnya biasa memanggil lelaki tua penjaga warung itu. Warung Babe terletak tepat di depan bangunan kantor saya di daerah Meruya, Jakarta Barat.

Warung Babe adalah warung yang mungkin biasa kalian lihat dijalanan. Warung yang biasa menjual rokok, aneka minuman sampai amplop yang dibutuhkan jika kalian lupa membawanya ketika hendak pergi kondangan. Saya taksir, Babe warung ini umurnya berkisar 50 tahunan. Entah sejak kapan Babe berwarung di depan kantor itu. Pastinya lebih dari umur saya bekerja di kantor yang baru mau genap jalan dua tahun.
 
Babe menjalani kesehariannya di warung bersama seorang isteri yang begitu ia cintai. setidaknya itulah yang saya nilai selama ini. Babe begitu men-treat si ibu warung bak seorang Ratu. Yah, seorang ratu. meski tanpa mahkota dan jubah kerajaan. Alih-alih memakai mahkota atau jubah, babe dan ibu bahkan menghabiskan harinya di warungnya itu. Warung berukuran tak lebih besar dari WC umum. Disitulah istana keseharian Babe dan ibu.  Mereka makan, tidur, mencuci pakaian dan tentu saja berharap akan pendapatan untuk sekedar membeli nasi bungkus di istana Maha Mungil itu.
 
Pernah suatu ketika, ibu yang bertubuh gendut akhir-akhir ini seringkali jatuh sakit. Ibu menderita asam urat serius yang beberapa kali kambuh. Waktu itu saya dan teman-teman kantor saya sempat bilang sama babe, supaya ibu menjaga makanannya, jangan banyak makan mengandung kolesterol yang memang menjadi larangan bagi penderita asam urat.
 
Saat itu, babe hanya tersenyum sambil berkata, "Babe mah udah bilangin Vin, tapi ibunya kadang bandel, tetep maksa mau makan ini, mau makan itu. Namanya juga kesayangan, babe mah ikutin aja apa maunya." Babe berkata demikian sembari menyuapkan beberapa sendok nasi bungkus kepada isterinya.
 
JEGER!! Bagai ditimpa letupan mrecon tahun baru rasanya mendengar babe yang sudah paruh baya itu masih segitu manis kepada isterinya:)
 
Ibu yang bertubuh gendut tentu tak akan cukup tidur berdua babe di warung itu. Setiap malam, ibu tidur di dalam warung dan babe tidur di samping mesin genset milik kantor kami. Sekedar info, mesin genset kami terletak di parkiran mobil, which is tempat itu tak beratap tempat favorit para tikus dan teman-temannya lalu lalang. Babe tidur hanya beralaskan kardus. Sampai sekarang pun saya belum selesai membayangkan, bagaimana babe bisa menghabiskan setiap malamnya sedemikian sederhananya (jika tak ingin dibilang miris).
 
Adakah guratan penyesalan dengan takdir yang Babe jalani? saya rasa tidak. Setidaknya opini itulah yang bisa saya simpulkan. Saya tak pernah melihat babe mengeluh, tak pernah pun mendengar ibu curcol tentang keadaannya. Mereka, sebagaimana yang sempat saya ceritakan di atas, selalu 'istiqomah' dengan senyum hangatnya dalam menyambut pagi saya.
 
Semoga Allah melapangkan setiap kesulitan dan proses hidup yang harus babe dan ibu hadapi :)

Thursday, December 27, 2012

S.O.P.H.I.A


She came with an innocent face.
After that, U'll know.. She could ruin your day!!! HAHAHA..
My 'Sinting' Colleague, My Mature Sister, My Greedy Friend..
SOPHIA HIMAWAN.

All the best for your future, Nyet!

GLORY! GLORY! Muhammadiyah United


Sejak lama sebetulnya saya ingin sekali memposting sesuatu tentang ke-Muhammadiyah-an. Bahkan pada saat Muhammadiyah berulang tahun November lalu, saya ingin sekali mengabadikannya melalui tulisan semampu saya. Saat itu saya tidak sempat memposting beberapa kalimat yang mungkin bisa terangkum menjadi sebuah tulisan di blog ini, tetapi untudngnya saya sempat sedikit mengumpulkan beberapa kalimat di 'garbage bin' online saya (baca: twitter).

Di ranah twitter itu,  saya bercerita mengapa hidup saya begitu erat dengan Muhammadiyah. Saya hidup dan dibesarkan dari pola pikir keagamaan Papa yang sangat Muhammadiyah. Saya tak tertarik sebetulnya menjabarkan apa dan bagaimana ajaran Muhammadiyah, Anda pun mungkin sudah banyak yang tahu (bahkan lebih baik mungkin dari penulis). Papa saya dulu aktivis Pemuda Muhammadiyah di Banjarmasin, ketika beliau menikah lalu hijrah ke Jakarta, ke-Muhammadiyah-annya sepertinya tak luntur, meski sibuk di kantor dan praktis tak bisa lagi berkecimpung dikeorganisasian Muhammadiyah, saya tahu papa tetap memberikan sumbangsih dalam bentuk lain kepada Muhammadiyah. Ketika papa punya rezeki lebih, papa mendonasikan sedikit dari yang beliau punya pasti ke tempat amal usaha Muhammadiyah terdekat. Either masjid, sekolah dsb.

Papa merupakan Pangeran dengan empat putri. Easy to guess, keempat putrinya tentu saja disekolahkan di Sekolah Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah terdekat dari rumah kami di Pamulang adalah Muhammadiyah Setiabudi Pamulang yang terletak di Reni Jaya. Saat most of parents meng-insist anaknya untuk belajar giat supaya bisa masuk sekolah negeri unggulan, papa sama sekali tak menuntut itu. Papa menuntut kami tetap belajar giat untuk hasil terbaik, tetapi tetap kami anak-anaknya tak punya pilihan, sekolahnya HARUS di Muhammadiyah :D

Akhirnya seperti rantai yang tak pernah putus, sekolah Muhammadiyah di Reni Jaya itu pun mencatat bahwa papa mungkin sebagai salah satu orangtua paling royal karena anaknya, keluar satu masuk satu, lulus anak yang satu, masuk lagi anak yang satu. (Sekedar informasi, saya adalah the Youngest Daughter-nya papa, apakah berarti keturunannya papa selesai menuntut ilmu di sekolah Muhammadiyah itu? TENTU TIDAK! Cucu pertama papa, sampai sekarang masih aktif tercatat sebagai siswa di sana) HAHAHA!

Hal paling tak bisa dihindari juga adalah, ke-famous-an mama saya di sekolah itu. Gimana gak famous? Mama saya pun tercatat sebagai Ibu yang lebih dari 15 tahun wara-wiri ngambil raport di sekolah yang sama. Saya pribadi, bersekolah di Muhammadiyah 6 tahun lamanya, sejak tingkat SMP hingga SMA. Belom lagi ketiga kakak saya lainnya :D

Saya tidak menyesal, justru bangga bisa dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Sempat bergabung di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), sempat ikut meramaikan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) meski tak lama, sempat bergabung di kelompok Drum Band Gita Nada Muhammadiyah, sampai trapped berkali-kali dengan forbidden story khas murid dan guru. HAHHA!

Therefore, tepat di SATU ABAD Muhammadiyah bulan lalu, saya tak henti melafazkan smoga Sang Surya-nya Muhammadiyah tetap bersinar dengan Syahadat yang tetap melingkar.

At the end of this story I wanna ask you to join me singing Our Anthem : AL ISLAM AGAMAKU, MUHAMMADIYAH GERAKANKU !


Nun walqolami wa maa yasturuun
Fastaabiqul khoirot

Wassalam






Monday, November 19, 2012

It was.. but still..

Saat Jakarta hampir menjelang pukul sembilan malam. Aku masih terduduk di meja kantorku menanti jam pulang tiba. Sesaat terlintas untuk kembali membaca ulang blog tentang sahabat-sahabat ketika kuliah dulu. Sempat kerepotan juga menahan air mata untuk tidak tumpah saat itu juga. Setelah membaca memori tentang mereka dan membaca apa kata mereka tentang aku. 4 tahun yang nyaris sempurna. Memiliki mereka dalam catatan hidup seorang Avina. Meski saat ini, aku bahkan hampir tidak tahu lagi tentang keberadaan mereka.

Saat itu pun aku begitu menyadari, niat kami saat dulu benar. Ketika hendak membukukan testimoni tentang kepribadian masing-masing dari kami. Saat itu kami berfikir, jika suatu saat kita rindu akan masa-masa dablek kuliah, baca saja blog ini! Dan itulah yang saya lakukan saat ini. Saya sempat men-copy beberapa testimony tentang saya.

Testimony pertama ditulis oleh sahabat saya, Agus Gunawan. Tulisan ini ditulisnya pada tanggal 4 Januari 2010 lalu.  

"Ribet amat sih namanya, Avina Mardhiyati. Sampai pernah cover makalah harus dicoret karena pnggunaan huruf yang tidak efektif dan pemborosan huruf he........ Tadinya aku mengomentari vina dari suaranya, tapi itu sudah banyak yang bahas, aku mau mengomentarinya dari sudut lain. Avina itu petualang wisata kuliner, yang aku ingat dari perjalanan-perjalanan bersama Vina, ke Bandung, Jogja, Citos dll. adalah jajanannya Vina. Kalo mau ke Geger Kalong sepanjang Setiabudi mata perifetik-nya melototi kuliner dan setengah jam kemudian sudah mendapatkan daftar makanan yang harus diburu; sorabi imut, mocca, cireng isi, batagor STIT, soto ayam, baso tomat, es jeruk es teh juga, brownis, tapi ada yang aneh setelah nonton Quickly Express, kenapa beli roti isi sosis ya vn? he.....

Vina panggilan sngkat sih, tapi tetap saja ribet dilidahku, ‘VN’ cukup dengan dua huruf kalau sms, banyak hal yang aku kagumi darinya. Vina itu komitment, sama halnya denganku masuk TH dengan basic SD SMP SMA tapi bagi vn masuk TH bukan pilihan yang mudah, ‘laksana dilempar ke lautan’ katanya. Tapi jangan salah, komitmennya untuk belajar lebih hebat daripada aku, buktinya vn dapat nilai A untuk mata kuliah bahasa Arab II Ikhlas, vn itu masuk TH niatnya ‘ ya kalo dapat ilmu minimal untuk vn sendiri' ‘soalnya di keluargaku ga ada yang belajar di TH’ subhanallah ya....

Apa pun pasti selesai, jangan sebut vn cw tangguh kalau ga bisa nyelesain masalah, mulai dari ngurus BEM-J sampai ngurus KKS, mulai dari ngelobi KajurMu sampai melobi tukang angkot, apa pun yang ditugaskan ke vina pasti selesai.... Coba kalau seimbang machocisme (menyakiti diri sendiri untuk kesengan) dan narsismenya seimbang, lima tahun yang akan datang kamu telah menjadi wanita karier SUKSES ya minimalnya jadi Mrs. Universe Amin ke..! he...........

-Agus Gunawan-



Setelah testimoni yang dituliskan Agus, di bawah ini, tulisan sahabat saya lainnya, Rizky Munggaran. Rizky mempublish tulisan ini tepat 2 hari setelah Agus menuliskan testimony-nya tentang saya.

WEDNESDAY, JANUARY 6, 2010:

Kerinduan ini Semakin Dalam..., AGUS...,”pernah nonton Laskar Pelangi belom...??” betul...siapa lagi tokoh dalam film itu yang Cerdas, Berani, banyak menginspirasi orang, dan bisa membangkitkan semangat teman-temannya untuk terus maju?? siapa lagi klo bukan Lintang...!! begitulah Agus, perannya bagai lintang dimana saja dia berada. dari namanya saja udah ketahuan, “GUNAWAN” yang berarti “seorang yang banyak memberi “guna” bagi orang lain”. Mungkin klo diibaratkan hadis nabi ‘Khoirun naas ‘anfauhum linnaas’.....! Karena ide dan gagasannya selalu “segar”, maka tak jarang aku sering curhat dengannya....(hemm so sweet..........). pokoknya, Acungan dua jempol, cukup untuk membuktikan kehebatannya...truz, Gus...”Tong hilap dukung PERSIB”...hahaha MAKSAL dan OMEN..., bila agus kita ibaratkan lintang dalam film ‘laskar pelangi,’ maka dua sahabat ini, kita gambarkan dalam film komedi anak..’Tom and Jerry’ hahahaha....!!! di mana ada maksal, pasti ada omen, begitupun sebaliknya. Pas banget klo diibaratkan TOM and JERRY, sosoknya jenaka, banyak menghibur orang, tak sedikit orang yang tertawa melihat tingkah mereka. Ya, kalo keberatan dengan TOM and Jerry, Azis ma Sule juga ga apa2....hehe HAVIS..., Top Markotop.....seorang sahabat yang tak pernah termenung, banyak bercanda, pokoknya Ngocol terussss....! teman yang punya belalang tempur ini, lagu Favoritnya adalah Dangdut (tepatnya lagu Rhoma Irama, yang judulnya: Izi Sholehah...eh sorry kepeleset, Istri Sholehah maksudnya), gara-gara skripsinya membahas ‘dewasa’ dia kena “tiga langkah mati” sama pak Eva. meskipun begitu, bila aku membaca hadis nabi :”Yaa Aba Musa, Laqod uutita Mizzmaaron min Mazaamiiri Aali Dawud” seolah-olah aku ingin mengganti lafadz “Aba Musa” itu dengan “Hafidz Arifin”....karena dia punya suara emas yang sekaligus mengantarkannya menjadi ketua HIQMA dan menjadi lelaki panggilan....SALAM SUPEEER.....!!! VINA...,”Coba Kau Katakan Padaku.., Apa yang Seharusnya Aku Lakukan.., Bila Larut Tiba.., Wajah mu Terbayang.., Kerinduan ini Semakin Dalam...,” itulah petikan syair dari lagu Ebiet G.Ade, yang paling tepat menggambarkan suasana hatiku padanya akhir2 ini....heueheue...Prikitiiiiwwww...!!!!! Wajar, teman yang satu ini Cantix, maka tidak heran bila banyak juga yang suka padanya. Dia juga cerdas,paling rame, (pokoknya,meskipun gak ada TV, asal ada dia suasana tetap rame), paling lincah waktu profesa, dia juga pandai menjaga perasaan, dan setia kawan (tapi gak setia pacar...hehe), selalu hadir dalam setiap kegiatan, and nggak ngebosenin tentunya. Animonya yang tinggi untuk masuk tafsir-hadis, membuat ku salut padanya. Apalagi latar belakangnya dari SMA (Muhammadiyah lagi....). mungkin itu suatu isyarat dari hadis nabi “Man Yuridillaahu Bihi Khoiron Yufaqqihu Fiddiin”...hhemmm ,,,,???....

Thursday, March 8, 2012

Amin-Ismie-Benny

Dan akhirnya..
Berujung pada perpisahan juga.

Terkesan menggelikan ya? Jika belum apa-apa, saya sudah mengawali wacana ini dengan kata "akhirnya". Tapi jika saja kalian tahu sejarah perjalanan love story saya, mungkin tak perlu begitu mengernyitkan dahi. Karena makna "akhirnya" ini (bisa jadi) justru babak awal perjalanan saya lainnya.

Untuk orang yang mengenal saya, kemungkinan memahami atau bahkan menyaksikan, betapa saya dan Emyan, lelaki yang lebih dari lima tahun menjadi "paket komplit" dalam hidup saya, telah melalui proses hubungan yang begitu melelahkan.

Saya senang menyebutnya dengan "paket komplit". Karena jangka waktu lima tahun lebih dari cukup untuk menjadikan Emyan, tidak hanya sebagai kekasih unya-unyu, yang kepadanya saya bisa berharap setangkai bunga mawar segar, janji setia abadi di atas pelaminan dan semacamnya. Bagi saya, lima tahun kami, mampu menjadikan Emyan menjelma menjadi sahabat, kakak laki-laki bahkan musuh terbesar saya. That's why i called him, my complete stuff!

Tetapi, apa yang bisa diduga di dunia yang semua kuasa bergantung pada Sang Kreator Sempurna. Lima tahun pun tak mampu menjamin apapun bagi hubungan kami. Tepat satu minggu sebelum saya dan Emyan memasuki tahun kami yang ke-enam, kesepakatan untuk menyudahi 'kelimatahunan' kami pun menjadi pilihan terbaik saat itu.

Terus terang, atas alasan apapun. Saya tak begitu tertarik membahas terlalu dalam, apa dan mengapa 'kelimatahunan' ini harus berakhir. Mungkin jika suatu saat kalian beruntung bertemu saya, akan saya ceritakan detail persisnya.

Saya lebih tertarik mengungkit siapakah orang-orang di balik layar, yang menurut saya begitu berjasa. Orang-orang yang membuat saya tak terlalru larut mengharu-biru atas kehilangan 'paket komplit' tadi.

Tak sedikit orang yang terasa begitu bersimpati atas keputusan saya dan Emyan. Mereka seperti Haqqul-Yaqin kalau saya begitu terpukul dengan kejadian itu. Kalimat-kalimat "bela sungkawa" yang ditujukan pada saya pun mengalir deras.

" Ah? Gila.. Masa sih elo putus? elo berdua kan unbreakable gitu, pasti elo sedih banget ya, Vin. sabar ya sayang"

"Ya Ampuunn.. i'm sorry to hear that! Gw sedih deh dengernya, apalagi elo ya? Sabar ya Beb.. *peluk-pelukVina*!"

"HAH! Bukannya elo berdua mau merit ya tahun ini? Haduhh.. yang sabar ya!"

Bla..bla..bla..bla..

Well, biar bagaimanapun saya berterima-kasih dengan semua kalimat "bela sungkawa" tadi. Setidaknya mereka mengucapkan semua itu tidak dengan gaya khas om Mario Teguh atau dengan se-buket karangan bunga dengan tittle "Turut Berduka Cita". Tapi biar lah prasangka-prasangka bahwa saya merupakan objek penderita menari dalam kepala mereka. Meski pengen banget rasanya, saya teriak dihadapan mereka, " HEY I LITERALLY OKEY! DON'T RUIN MY "OKEY" WITH YOUR CONDOLENCE WORDS." Kata-kata haru-biru yang justru memberikan peluang bagi saya untuk menangisi keadaan. THE BIG H-E-L-L NO!

Di saat sebagian orang ribut dengan kalimat bela-sungkawa tadi. Beberepa orang justru datang dengan mantra penguatnya. Orang-orang yang kemudian bagaikan "vitamin" untuk saya, yang jika tidak meminumnya, saya lemas.

Saya selalu mengagumi firman Tuhan yang bermakna bahwa rezeki Tuhan terkadang akan datang justru dari arah yang tak terduga. Kalau dari arah tak terduga saja rezeki-Nya bisa datang, apalagi dari arah yang memang sudah seharusnya, bukan?

Amin, Ismi dan Benny. Adalah yang saya sebut sebagai 'vitamin'. Lebih dari itu, mereka bagai laskar-laskar hati saya yang sedikitpun seperti tak rela membiarkan hati ini mengharu-biru. Orang-orang yang pada akhirnya saya sadari berpengaruh besar pada proses healing hati saya. Tahukah kalian? Bahwa ketiga orang baik ini bahkan tak mengenal satu sama lain. Mereka datang dari berbagai macam history dalam hidup saya. Amin dan Ismi, memang sejak lama, jidatnya berstempelkan 'laskar hati' untuk saya. Mereka sudah sering 'menikmati' momen-momen pahit manis hidup saya. Merekalah rezeki saya dari Tuhan yang datangnya dari arah yang sudah terduga. Dan, Benny, pria bersuara bariton ini, adalah new comer dalam sejarah hidup saya. Benny-lah yang kemudian saya sebut dengan rezeki Tuhan yang datangnya dari arah tak terduga sebelumnya. Mereka ber-tiga yang membuat satu bulan paska perpisahan saya dengan Emyan berjalan sangat manis. Mereka mewarnai kelabu hati saya dengan pensil warna mereka masing-masing. Dan berhasil!

Bahkan saat akhirnya, tak kurang dari sebulan Emyan sudah memiliki pengganti saya. I CAN STAND UP ON MY OWN FEET AND I'M SURE THAT I'M OKEY. Lebih tepatnya, Amin-Ismie-Benny, yang membuat saya bisa baik-baik saja. Seperti yang pernah saya ungkapkan, mereka hadir dengan kekhasan pribadi mereka masing-masing.

Amin dengan segala kebijaksanaan dan permusyawaratannya bilang :
"Apa yang bikin elo sedih dengan dia (sudah) punya pacar lagi?" Hanya kalimat pertanyaan inilah yang Amin ajukan saat itu. Kalimat yang tak sampai satu detik ia ucapkan, dan tak mampu saya jawab. Entah mengapa, tapi saat itu saya sungguh tak punya alasan logis untuk menjawab pertanyaan Amin. Dan ini kabar baik bagi hati saya. Artinya memang tak ada lagi yang patut dan perlu ditangisi atas hilangnya Emyan dari hidup saya, bukan?

Ismie dengan segala 'keliarannya', dia bilang:
"Akkhh! Orang kalo udah dablek mah dablek aja, Vinaaa! Dengan dia punya pacar lagi dalam waktu singkat begini, it's so obvious, he doesn't deserve to you, AT ALL!

Lalu, Benny, dengan segala keunyuannya, bilang :
"HEY BEBITA!!, denger ya.. mau dia punya pacar lagi kek, mau dia jungkir balik kek, mau dia jadi tukang siomay kek, itu udah bukan urusan kamu lagi, buang-buang tenaga amat dipikirin, sini mending bbm-an sama aku aja." Hahhaa.. kelabilan Benny yang saat itu lagi bermasalah sama pacarnya, emang kadang bikin advice-advice yang keluar dari jempol atau mulutnya terdengar absurd abis. Tapi that's okey, toh Benny dengan caranya tetep bisa bikin saya nyaman cerita banyak hal kok.

Hari-hari pada satu bulan pertama, paska putus, Amin-Ismie-Benny lah yang jadi jajaran teratas di chat list bbm saya. Di tiap detik, tiap menit hingga kalkulasi hari, nama-nama mereka lah yang bisa dipastikan muncul di chat list saya.

Amin yang bekerja sebagai Head Division Forester di salah satu perusahaan ternama di Pontianak, harus bersusah payah jungkir balik mencari signal untuk berkomunikasi dengan saya. Dan semua itu terkadang hanya untuk memastikan bahwa saya dan hati saya dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Ismie disela-sela kesibukannya melayani nasabah, dia selalu punya waktu untuk membalas dan meladeni messages saya, meski kadang messages yang saya kirimkan hanya berbentuk emoticon 'air mata'

Lalu, Benny, mantan barista Starbuck yang kini merintis jadi marketer di sebuah perusahaan farmasi di Bogor, selalu jadi insan paling pagi yang membuat Blackberry saya berbunyi. Meski sekedar greetings dan mengingatkan saya agar tidak lupa sarapan sebelum berangkat kerja.

Amin-Ismie-Benny lah laskar-laskar hati saya. Mereka bahkan membuat saya tak punya waktu untuk menyesali perpisahan saya dan Emyan. Mereka datang tak melulu dengan kata-kata motivator bak Mario Teguh Golden Ways. Mereka menemani melewati hari-hari proses healing saya dengan cerita-cerita mereka, joke-joke garing mereka, bahkan umpatan-umpatan mereka.

Amin dengan permasalahan hutan, keluarga dan juga calon isterinya. Ismie dengan kisah baktinya dalam membahagiakan keluarganya seorang diri, juga dengan kisah cintanya yang terhalang perbedaan agama. Lalu Benny, dengan kisah thawaf keliling rumah sakit demi menawarkan produknya untuk para dokter ataupun kisah tragis masa lalunya.

Kami bersinergi dalam berbagi. Saya dan Amin. Saya dan Ismie. Saya dan Benny. Dengan pensil warna yang mereka miliki, mereka tidak hanya berhasil mewarnai hari-hari (yang sebagian besar orang menyangka) suram, tapi juga berhasil mendidik saya untuk tidak sedikitpun menyesal bahkan membenci bagian hidup yang pernah saya lalui bersama Emyan. Mereka mengajari saya untuk tidak menangis tanpa dendam.

Satu hal yang belum sempat saya tanyakan pada mereka. Jika selama ini, mereka memberikan begitu banyak manfaat, bagi hati dan pikiran saya. Apakah saya juga demikian bagi mereka? Ah! Meski saya yakin tidak, tapi saya berjanji, suatu saat saya harus. Saya (semestinya) ada jika mereka membutuhkan saya. Saya ingin mereka tahu rasanya memiliki laskar hati dalam hidup mereka. Saya ingin mereka juga bisa merasakan kekhidmatan bersyukur memiliki rezeki-rezeki Tuhan, baik dari arah terduga maupun tidak.

Terima kasih Amin. Terima kasih Ismie. Terima kasih Benny. And last but not least.. Terima kasih Tuhan :)

Thursday, August 18, 2011

Michael Andrew Nielsen

Saya faham! Faham betul jika perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Tapi setiap kali hal itu datang di hidup saya, demi Tuhan, saya ingin sekali men-skip-nya. Saya ingin bersembunyi atau berlari agar si perpisahan itu tak akan pernah mengenal saya.

Dan kali ini, keniscayaan itu pun tak dapat tertolak. Di ruang cerita ini, saya ingin berbagi, menyampaikan kesedihan atas kepergian satu orang baik yang pernah saya kenal.

Saya sedih (jika tak ingin saya akui bahwa saya menyesal) atas kepergiannya. Karena selama dia ada, bekerja satu atap di kantor kami, saya hampir tak pernah berbuat baik, mungkin tepatnya tak bisa berbuat jujur untuk berkelakuan baik. Saya selalu bertampang masam, menghinanya di jejaring sosial, menyebutnya sebagai lelaki sensitif dsb.

Dan tibalah saat itu, saat ketika dia harus pergi, pergi jauh (bukan mati). Pulang ke negaranya yang terletak jauh ribuan mil dari sini. Ketika beberapa orang di kantor saya memilih menangisi kepergiannya, sebelum pertemuan terakhir itu, saya memilih memberanikan diri menigirimkan sebuah catatan di kotak emailnya :

"Do you know Abang? I’m still wishing that your decision about resignation was just the nightmare that won’t really happen when I wake up from my sleep. When we, all of staff, received the email from Alan that informed us about your resignation. No one of us weren’t sad. But I thougt that I was the one who had the worst feeling at the time. How I wasn’t?? I’ve just known you, not even for 6 months, then you’ve just said that u want to leave.

Do you know Abang? Honestly, You’re the best BULE that I’ve ever known. A moments ago, When I haven’t worked at EF, I’m the haters of BULE!! I thought that every BULE are rude, speak like they’re yelling, disrespectful and they don’t even care with each other, SELFISH! But you know? I never find that things on you abang. Yeaahh.. though you do often look so annoying with your perfectionist things while you do your work as a DOS :p

I’m so deeply sad Abang, Truly sad!! Since I joined in EF Pesanggrahan, one by one “my family” left me behind. Ibu Yoke, Lulu and now, its you!!
I definitely know, a separation is a certain thing. But one that really make me sad, that is happened in same time. Do you know how it feels, Abang? It feels like you lost the one part of your body. It hurts, right? So much hurts.

It will be so hard for me to imagine how it feels when I dialed 108 and there’s no more you pick up my call. When I through your office room at 3rd floor, and there’s no more you who sit there. No more BULE calls me “Mbak”, no more bule who calls “LOLA” or "LEBAY" to me, no more BULE with his stunning smile like yours (ah ya, except Peter Parker, I think!) And of course.. No more BULE who kindly give me a ride to the bus stop.

For many times, I have to realize that separation is a certain thing and one thing that might be make me and might be other staff easily to accept your decision is we all know that you will be happier with it.
Well, Always remember us Abang. Also Garang asem, tongseng ayam, dangdut music (which Kadir often plays in every morning) and always Indonesia for sure. Someday when you back here, remember that you still have our hearts, also remember that you’re still and always part of us. Our Pesanggrahan family. Stay in touch with sending a post card or email ya Abang. And I won’t close this letter with saying good bye.."