Thursday, December 27, 2012

S.O.P.H.I.A


She came with an innocent face.
After that, U'll know.. She could ruin your day!!! HAHAHA..
My 'Sinting' Colleague, My Mature Sister, My Greedy Friend..
SOPHIA HIMAWAN.

All the best for your future, Nyet!

GLORY! GLORY! Muhammadiyah United


Sejak lama sebetulnya saya ingin sekali memposting sesuatu tentang ke-Muhammadiyah-an. Bahkan pada saat Muhammadiyah berulang tahun November lalu, saya ingin sekali mengabadikannya melalui tulisan semampu saya. Saat itu saya tidak sempat memposting beberapa kalimat yang mungkin bisa terangkum menjadi sebuah tulisan di blog ini, tetapi untudngnya saya sempat sedikit mengumpulkan beberapa kalimat di 'garbage bin' online saya (baca: twitter).

Di ranah twitter itu,  saya bercerita mengapa hidup saya begitu erat dengan Muhammadiyah. Saya hidup dan dibesarkan dari pola pikir keagamaan Papa yang sangat Muhammadiyah. Saya tak tertarik sebetulnya menjabarkan apa dan bagaimana ajaran Muhammadiyah, Anda pun mungkin sudah banyak yang tahu (bahkan lebih baik mungkin dari penulis). Papa saya dulu aktivis Pemuda Muhammadiyah di Banjarmasin, ketika beliau menikah lalu hijrah ke Jakarta, ke-Muhammadiyah-annya sepertinya tak luntur, meski sibuk di kantor dan praktis tak bisa lagi berkecimpung dikeorganisasian Muhammadiyah, saya tahu papa tetap memberikan sumbangsih dalam bentuk lain kepada Muhammadiyah. Ketika papa punya rezeki lebih, papa mendonasikan sedikit dari yang beliau punya pasti ke tempat amal usaha Muhammadiyah terdekat. Either masjid, sekolah dsb.

Papa merupakan Pangeran dengan empat putri. Easy to guess, keempat putrinya tentu saja disekolahkan di Sekolah Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah terdekat dari rumah kami di Pamulang adalah Muhammadiyah Setiabudi Pamulang yang terletak di Reni Jaya. Saat most of parents meng-insist anaknya untuk belajar giat supaya bisa masuk sekolah negeri unggulan, papa sama sekali tak menuntut itu. Papa menuntut kami tetap belajar giat untuk hasil terbaik, tetapi tetap kami anak-anaknya tak punya pilihan, sekolahnya HARUS di Muhammadiyah :D

Akhirnya seperti rantai yang tak pernah putus, sekolah Muhammadiyah di Reni Jaya itu pun mencatat bahwa papa mungkin sebagai salah satu orangtua paling royal karena anaknya, keluar satu masuk satu, lulus anak yang satu, masuk lagi anak yang satu. (Sekedar informasi, saya adalah the Youngest Daughter-nya papa, apakah berarti keturunannya papa selesai menuntut ilmu di sekolah Muhammadiyah itu? TENTU TIDAK! Cucu pertama papa, sampai sekarang masih aktif tercatat sebagai siswa di sana) HAHAHA!

Hal paling tak bisa dihindari juga adalah, ke-famous-an mama saya di sekolah itu. Gimana gak famous? Mama saya pun tercatat sebagai Ibu yang lebih dari 15 tahun wara-wiri ngambil raport di sekolah yang sama. Saya pribadi, bersekolah di Muhammadiyah 6 tahun lamanya, sejak tingkat SMP hingga SMA. Belom lagi ketiga kakak saya lainnya :D

Saya tidak menyesal, justru bangga bisa dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Sempat bergabung di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), sempat ikut meramaikan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) meski tak lama, sempat bergabung di kelompok Drum Band Gita Nada Muhammadiyah, sampai trapped berkali-kali dengan forbidden story khas murid dan guru. HAHHA!

Therefore, tepat di SATU ABAD Muhammadiyah bulan lalu, saya tak henti melafazkan smoga Sang Surya-nya Muhammadiyah tetap bersinar dengan Syahadat yang tetap melingkar.

At the end of this story I wanna ask you to join me singing Our Anthem : AL ISLAM AGAMAKU, MUHAMMADIYAH GERAKANKU !


Nun walqolami wa maa yasturuun
Fastaabiqul khoirot

Wassalam






Monday, November 19, 2012

It was.. but still..

Saat Jakarta hampir menjelang pukul sembilan malam. Aku masih terduduk di meja kantorku menanti jam pulang tiba. Sesaat terlintas untuk kembali membaca ulang blog tentang sahabat-sahabat ketika kuliah dulu. Sempat kerepotan juga menahan air mata untuk tidak tumpah saat itu juga. Setelah membaca memori tentang mereka dan membaca apa kata mereka tentang aku. 4 tahun yang nyaris sempurna. Memiliki mereka dalam catatan hidup seorang Avina. Meski saat ini, aku bahkan hampir tidak tahu lagi tentang keberadaan mereka.

Saat itu pun aku begitu menyadari, niat kami saat dulu benar. Ketika hendak membukukan testimoni tentang kepribadian masing-masing dari kami. Saat itu kami berfikir, jika suatu saat kita rindu akan masa-masa dablek kuliah, baca saja blog ini! Dan itulah yang saya lakukan saat ini. Saya sempat men-copy beberapa testimony tentang saya.

Testimony pertama ditulis oleh sahabat saya, Agus Gunawan. Tulisan ini ditulisnya pada tanggal 4 Januari 2010 lalu.  

"Ribet amat sih namanya, Avina Mardhiyati. Sampai pernah cover makalah harus dicoret karena pnggunaan huruf yang tidak efektif dan pemborosan huruf he........ Tadinya aku mengomentari vina dari suaranya, tapi itu sudah banyak yang bahas, aku mau mengomentarinya dari sudut lain. Avina itu petualang wisata kuliner, yang aku ingat dari perjalanan-perjalanan bersama Vina, ke Bandung, Jogja, Citos dll. adalah jajanannya Vina. Kalo mau ke Geger Kalong sepanjang Setiabudi mata perifetik-nya melototi kuliner dan setengah jam kemudian sudah mendapatkan daftar makanan yang harus diburu; sorabi imut, mocca, cireng isi, batagor STIT, soto ayam, baso tomat, es jeruk es teh juga, brownis, tapi ada yang aneh setelah nonton Quickly Express, kenapa beli roti isi sosis ya vn? he.....

Vina panggilan sngkat sih, tapi tetap saja ribet dilidahku, ‘VN’ cukup dengan dua huruf kalau sms, banyak hal yang aku kagumi darinya. Vina itu komitment, sama halnya denganku masuk TH dengan basic SD SMP SMA tapi bagi vn masuk TH bukan pilihan yang mudah, ‘laksana dilempar ke lautan’ katanya. Tapi jangan salah, komitmennya untuk belajar lebih hebat daripada aku, buktinya vn dapat nilai A untuk mata kuliah bahasa Arab II Ikhlas, vn itu masuk TH niatnya ‘ ya kalo dapat ilmu minimal untuk vn sendiri' ‘soalnya di keluargaku ga ada yang belajar di TH’ subhanallah ya....

Apa pun pasti selesai, jangan sebut vn cw tangguh kalau ga bisa nyelesain masalah, mulai dari ngurus BEM-J sampai ngurus KKS, mulai dari ngelobi KajurMu sampai melobi tukang angkot, apa pun yang ditugaskan ke vina pasti selesai.... Coba kalau seimbang machocisme (menyakiti diri sendiri untuk kesengan) dan narsismenya seimbang, lima tahun yang akan datang kamu telah menjadi wanita karier SUKSES ya minimalnya jadi Mrs. Universe Amin ke..! he...........

-Agus Gunawan-



Setelah testimoni yang dituliskan Agus, di bawah ini, tulisan sahabat saya lainnya, Rizky Munggaran. Rizky mempublish tulisan ini tepat 2 hari setelah Agus menuliskan testimony-nya tentang saya.

WEDNESDAY, JANUARY 6, 2010:

Kerinduan ini Semakin Dalam..., AGUS...,”pernah nonton Laskar Pelangi belom...??” betul...siapa lagi tokoh dalam film itu yang Cerdas, Berani, banyak menginspirasi orang, dan bisa membangkitkan semangat teman-temannya untuk terus maju?? siapa lagi klo bukan Lintang...!! begitulah Agus, perannya bagai lintang dimana saja dia berada. dari namanya saja udah ketahuan, “GUNAWAN” yang berarti “seorang yang banyak memberi “guna” bagi orang lain”. Mungkin klo diibaratkan hadis nabi ‘Khoirun naas ‘anfauhum linnaas’.....! Karena ide dan gagasannya selalu “segar”, maka tak jarang aku sering curhat dengannya....(hemm so sweet..........). pokoknya, Acungan dua jempol, cukup untuk membuktikan kehebatannya...truz, Gus...”Tong hilap dukung PERSIB”...hahaha MAKSAL dan OMEN..., bila agus kita ibaratkan lintang dalam film ‘laskar pelangi,’ maka dua sahabat ini, kita gambarkan dalam film komedi anak..’Tom and Jerry’ hahahaha....!!! di mana ada maksal, pasti ada omen, begitupun sebaliknya. Pas banget klo diibaratkan TOM and JERRY, sosoknya jenaka, banyak menghibur orang, tak sedikit orang yang tertawa melihat tingkah mereka. Ya, kalo keberatan dengan TOM and Jerry, Azis ma Sule juga ga apa2....hehe HAVIS..., Top Markotop.....seorang sahabat yang tak pernah termenung, banyak bercanda, pokoknya Ngocol terussss....! teman yang punya belalang tempur ini, lagu Favoritnya adalah Dangdut (tepatnya lagu Rhoma Irama, yang judulnya: Izi Sholehah...eh sorry kepeleset, Istri Sholehah maksudnya), gara-gara skripsinya membahas ‘dewasa’ dia kena “tiga langkah mati” sama pak Eva. meskipun begitu, bila aku membaca hadis nabi :”Yaa Aba Musa, Laqod uutita Mizzmaaron min Mazaamiiri Aali Dawud” seolah-olah aku ingin mengganti lafadz “Aba Musa” itu dengan “Hafidz Arifin”....karena dia punya suara emas yang sekaligus mengantarkannya menjadi ketua HIQMA dan menjadi lelaki panggilan....SALAM SUPEEER.....!!! VINA...,”Coba Kau Katakan Padaku.., Apa yang Seharusnya Aku Lakukan.., Bila Larut Tiba.., Wajah mu Terbayang.., Kerinduan ini Semakin Dalam...,” itulah petikan syair dari lagu Ebiet G.Ade, yang paling tepat menggambarkan suasana hatiku padanya akhir2 ini....heueheue...Prikitiiiiwwww...!!!!! Wajar, teman yang satu ini Cantix, maka tidak heran bila banyak juga yang suka padanya. Dia juga cerdas,paling rame, (pokoknya,meskipun gak ada TV, asal ada dia suasana tetap rame), paling lincah waktu profesa, dia juga pandai menjaga perasaan, dan setia kawan (tapi gak setia pacar...hehe), selalu hadir dalam setiap kegiatan, and nggak ngebosenin tentunya. Animonya yang tinggi untuk masuk tafsir-hadis, membuat ku salut padanya. Apalagi latar belakangnya dari SMA (Muhammadiyah lagi....). mungkin itu suatu isyarat dari hadis nabi “Man Yuridillaahu Bihi Khoiron Yufaqqihu Fiddiin”...hhemmm ,,,,???....

Thursday, March 8, 2012

Amin-Ismie-Benny

Dan akhirnya..
Berujung pada perpisahan juga.

Terkesan menggelikan ya? Jika belum apa-apa, saya sudah mengawali wacana ini dengan kata "akhirnya". Tapi jika saja kalian tahu sejarah perjalanan love story saya, mungkin tak perlu begitu mengernyitkan dahi. Karena makna "akhirnya" ini (bisa jadi) justru babak awal perjalanan saya lainnya.

Untuk orang yang mengenal saya, kemungkinan memahami atau bahkan menyaksikan, betapa saya dan Emyan, lelaki yang lebih dari lima tahun menjadi "paket komplit" dalam hidup saya, telah melalui proses hubungan yang begitu melelahkan.

Saya senang menyebutnya dengan "paket komplit". Karena jangka waktu lima tahun lebih dari cukup untuk menjadikan Emyan, tidak hanya sebagai kekasih unya-unyu, yang kepadanya saya bisa berharap setangkai bunga mawar segar, janji setia abadi di atas pelaminan dan semacamnya. Bagi saya, lima tahun kami, mampu menjadikan Emyan menjelma menjadi sahabat, kakak laki-laki bahkan musuh terbesar saya. That's why i called him, my complete stuff!

Tetapi, apa yang bisa diduga di dunia yang semua kuasa bergantung pada Sang Kreator Sempurna. Lima tahun pun tak mampu menjamin apapun bagi hubungan kami. Tepat satu minggu sebelum saya dan Emyan memasuki tahun kami yang ke-enam, kesepakatan untuk menyudahi 'kelimatahunan' kami pun menjadi pilihan terbaik saat itu.

Terus terang, atas alasan apapun. Saya tak begitu tertarik membahas terlalu dalam, apa dan mengapa 'kelimatahunan' ini harus berakhir. Mungkin jika suatu saat kalian beruntung bertemu saya, akan saya ceritakan detail persisnya.

Saya lebih tertarik mengungkit siapakah orang-orang di balik layar, yang menurut saya begitu berjasa. Orang-orang yang membuat saya tak terlalru larut mengharu-biru atas kehilangan 'paket komplit' tadi.

Tak sedikit orang yang terasa begitu bersimpati atas keputusan saya dan Emyan. Mereka seperti Haqqul-Yaqin kalau saya begitu terpukul dengan kejadian itu. Kalimat-kalimat "bela sungkawa" yang ditujukan pada saya pun mengalir deras.

" Ah? Gila.. Masa sih elo putus? elo berdua kan unbreakable gitu, pasti elo sedih banget ya, Vin. sabar ya sayang"

"Ya Ampuunn.. i'm sorry to hear that! Gw sedih deh dengernya, apalagi elo ya? Sabar ya Beb.. *peluk-pelukVina*!"

"HAH! Bukannya elo berdua mau merit ya tahun ini? Haduhh.. yang sabar ya!"

Bla..bla..bla..bla..

Well, biar bagaimanapun saya berterima-kasih dengan semua kalimat "bela sungkawa" tadi. Setidaknya mereka mengucapkan semua itu tidak dengan gaya khas om Mario Teguh atau dengan se-buket karangan bunga dengan tittle "Turut Berduka Cita". Tapi biar lah prasangka-prasangka bahwa saya merupakan objek penderita menari dalam kepala mereka. Meski pengen banget rasanya, saya teriak dihadapan mereka, " HEY I LITERALLY OKEY! DON'T RUIN MY "OKEY" WITH YOUR CONDOLENCE WORDS." Kata-kata haru-biru yang justru memberikan peluang bagi saya untuk menangisi keadaan. THE BIG H-E-L-L NO!

Di saat sebagian orang ribut dengan kalimat bela-sungkawa tadi. Beberepa orang justru datang dengan mantra penguatnya. Orang-orang yang kemudian bagaikan "vitamin" untuk saya, yang jika tidak meminumnya, saya lemas.

Saya selalu mengagumi firman Tuhan yang bermakna bahwa rezeki Tuhan terkadang akan datang justru dari arah yang tak terduga. Kalau dari arah tak terduga saja rezeki-Nya bisa datang, apalagi dari arah yang memang sudah seharusnya, bukan?

Amin, Ismi dan Benny. Adalah yang saya sebut sebagai 'vitamin'. Lebih dari itu, mereka bagai laskar-laskar hati saya yang sedikitpun seperti tak rela membiarkan hati ini mengharu-biru. Orang-orang yang pada akhirnya saya sadari berpengaruh besar pada proses healing hati saya. Tahukah kalian? Bahwa ketiga orang baik ini bahkan tak mengenal satu sama lain. Mereka datang dari berbagai macam history dalam hidup saya. Amin dan Ismi, memang sejak lama, jidatnya berstempelkan 'laskar hati' untuk saya. Mereka sudah sering 'menikmati' momen-momen pahit manis hidup saya. Merekalah rezeki saya dari Tuhan yang datangnya dari arah yang sudah terduga. Dan, Benny, pria bersuara bariton ini, adalah new comer dalam sejarah hidup saya. Benny-lah yang kemudian saya sebut dengan rezeki Tuhan yang datangnya dari arah tak terduga sebelumnya. Mereka ber-tiga yang membuat satu bulan paska perpisahan saya dengan Emyan berjalan sangat manis. Mereka mewarnai kelabu hati saya dengan pensil warna mereka masing-masing. Dan berhasil!

Bahkan saat akhirnya, tak kurang dari sebulan Emyan sudah memiliki pengganti saya. I CAN STAND UP ON MY OWN FEET AND I'M SURE THAT I'M OKEY. Lebih tepatnya, Amin-Ismie-Benny, yang membuat saya bisa baik-baik saja. Seperti yang pernah saya ungkapkan, mereka hadir dengan kekhasan pribadi mereka masing-masing.

Amin dengan segala kebijaksanaan dan permusyawaratannya bilang :
"Apa yang bikin elo sedih dengan dia (sudah) punya pacar lagi?" Hanya kalimat pertanyaan inilah yang Amin ajukan saat itu. Kalimat yang tak sampai satu detik ia ucapkan, dan tak mampu saya jawab. Entah mengapa, tapi saat itu saya sungguh tak punya alasan logis untuk menjawab pertanyaan Amin. Dan ini kabar baik bagi hati saya. Artinya memang tak ada lagi yang patut dan perlu ditangisi atas hilangnya Emyan dari hidup saya, bukan?

Ismie dengan segala 'keliarannya', dia bilang:
"Akkhh! Orang kalo udah dablek mah dablek aja, Vinaaa! Dengan dia punya pacar lagi dalam waktu singkat begini, it's so obvious, he doesn't deserve to you, AT ALL!

Lalu, Benny, dengan segala keunyuannya, bilang :
"HEY BEBITA!!, denger ya.. mau dia punya pacar lagi kek, mau dia jungkir balik kek, mau dia jadi tukang siomay kek, itu udah bukan urusan kamu lagi, buang-buang tenaga amat dipikirin, sini mending bbm-an sama aku aja." Hahhaa.. kelabilan Benny yang saat itu lagi bermasalah sama pacarnya, emang kadang bikin advice-advice yang keluar dari jempol atau mulutnya terdengar absurd abis. Tapi that's okey, toh Benny dengan caranya tetep bisa bikin saya nyaman cerita banyak hal kok.

Hari-hari pada satu bulan pertama, paska putus, Amin-Ismie-Benny lah yang jadi jajaran teratas di chat list bbm saya. Di tiap detik, tiap menit hingga kalkulasi hari, nama-nama mereka lah yang bisa dipastikan muncul di chat list saya.

Amin yang bekerja sebagai Head Division Forester di salah satu perusahaan ternama di Pontianak, harus bersusah payah jungkir balik mencari signal untuk berkomunikasi dengan saya. Dan semua itu terkadang hanya untuk memastikan bahwa saya dan hati saya dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Ismie disela-sela kesibukannya melayani nasabah, dia selalu punya waktu untuk membalas dan meladeni messages saya, meski kadang messages yang saya kirimkan hanya berbentuk emoticon 'air mata'

Lalu, Benny, mantan barista Starbuck yang kini merintis jadi marketer di sebuah perusahaan farmasi di Bogor, selalu jadi insan paling pagi yang membuat Blackberry saya berbunyi. Meski sekedar greetings dan mengingatkan saya agar tidak lupa sarapan sebelum berangkat kerja.

Amin-Ismie-Benny lah laskar-laskar hati saya. Mereka bahkan membuat saya tak punya waktu untuk menyesali perpisahan saya dan Emyan. Mereka datang tak melulu dengan kata-kata motivator bak Mario Teguh Golden Ways. Mereka menemani melewati hari-hari proses healing saya dengan cerita-cerita mereka, joke-joke garing mereka, bahkan umpatan-umpatan mereka.

Amin dengan permasalahan hutan, keluarga dan juga calon isterinya. Ismie dengan kisah baktinya dalam membahagiakan keluarganya seorang diri, juga dengan kisah cintanya yang terhalang perbedaan agama. Lalu Benny, dengan kisah thawaf keliling rumah sakit demi menawarkan produknya untuk para dokter ataupun kisah tragis masa lalunya.

Kami bersinergi dalam berbagi. Saya dan Amin. Saya dan Ismie. Saya dan Benny. Dengan pensil warna yang mereka miliki, mereka tidak hanya berhasil mewarnai hari-hari (yang sebagian besar orang menyangka) suram, tapi juga berhasil mendidik saya untuk tidak sedikitpun menyesal bahkan membenci bagian hidup yang pernah saya lalui bersama Emyan. Mereka mengajari saya untuk tidak menangis tanpa dendam.

Satu hal yang belum sempat saya tanyakan pada mereka. Jika selama ini, mereka memberikan begitu banyak manfaat, bagi hati dan pikiran saya. Apakah saya juga demikian bagi mereka? Ah! Meski saya yakin tidak, tapi saya berjanji, suatu saat saya harus. Saya (semestinya) ada jika mereka membutuhkan saya. Saya ingin mereka tahu rasanya memiliki laskar hati dalam hidup mereka. Saya ingin mereka juga bisa merasakan kekhidmatan bersyukur memiliki rezeki-rezeki Tuhan, baik dari arah terduga maupun tidak.

Terima kasih Amin. Terima kasih Ismie. Terima kasih Benny. And last but not least.. Terima kasih Tuhan :)

Thursday, August 18, 2011

Michael Andrew Nielsen

Saya faham! Faham betul jika perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Tapi setiap kali hal itu datang di hidup saya, demi Tuhan, saya ingin sekali men-skip-nya. Saya ingin bersembunyi atau berlari agar si perpisahan itu tak akan pernah mengenal saya.

Dan kali ini, keniscayaan itu pun tak dapat tertolak. Di ruang cerita ini, saya ingin berbagi, menyampaikan kesedihan atas kepergian satu orang baik yang pernah saya kenal.

Saya sedih (jika tak ingin saya akui bahwa saya menyesal) atas kepergiannya. Karena selama dia ada, bekerja satu atap di kantor kami, saya hampir tak pernah berbuat baik, mungkin tepatnya tak bisa berbuat jujur untuk berkelakuan baik. Saya selalu bertampang masam, menghinanya di jejaring sosial, menyebutnya sebagai lelaki sensitif dsb.

Dan tibalah saat itu, saat ketika dia harus pergi, pergi jauh (bukan mati). Pulang ke negaranya yang terletak jauh ribuan mil dari sini. Ketika beberapa orang di kantor saya memilih menangisi kepergiannya, sebelum pertemuan terakhir itu, saya memilih memberanikan diri menigirimkan sebuah catatan di kotak emailnya :

"Do you know Abang? I’m still wishing that your decision about resignation was just the nightmare that won’t really happen when I wake up from my sleep. When we, all of staff, received the email from Alan that informed us about your resignation. No one of us weren’t sad. But I thougt that I was the one who had the worst feeling at the time. How I wasn’t?? I’ve just known you, not even for 6 months, then you’ve just said that u want to leave.

Do you know Abang? Honestly, You’re the best BULE that I’ve ever known. A moments ago, When I haven’t worked at EF, I’m the haters of BULE!! I thought that every BULE are rude, speak like they’re yelling, disrespectful and they don’t even care with each other, SELFISH! But you know? I never find that things on you abang. Yeaahh.. though you do often look so annoying with your perfectionist things while you do your work as a DOS :p

I’m so deeply sad Abang, Truly sad!! Since I joined in EF Pesanggrahan, one by one “my family” left me behind. Ibu Yoke, Lulu and now, its you!!
I definitely know, a separation is a certain thing. But one that really make me sad, that is happened in same time. Do you know how it feels, Abang? It feels like you lost the one part of your body. It hurts, right? So much hurts.

It will be so hard for me to imagine how it feels when I dialed 108 and there’s no more you pick up my call. When I through your office room at 3rd floor, and there’s no more you who sit there. No more BULE calls me “Mbak”, no more bule who calls “LOLA” or "LEBAY" to me, no more BULE with his stunning smile like yours (ah ya, except Peter Parker, I think!) And of course.. No more BULE who kindly give me a ride to the bus stop.

For many times, I have to realize that separation is a certain thing and one thing that might be make me and might be other staff easily to accept your decision is we all know that you will be happier with it.
Well, Always remember us Abang. Also Garang asem, tongseng ayam, dangdut music (which Kadir often plays in every morning) and always Indonesia for sure. Someday when you back here, remember that you still have our hearts, also remember that you’re still and always part of us. Our Pesanggrahan family. Stay in touch with sending a post card or email ya Abang. And I won’t close this letter with saying good bye.."

Saturday, May 28, 2011

Pulang Kampung














Siang itu, satu hari setelah saya memutuskan resign dari pekerjaan saya sebagai wartawan harian lokal, mama tiba-tiba bertanya : “Jadi gimana? Mau ikut umroh gak bulan depan?" Saya hanya tersenyum sambil berucap : “Ikuuuuttttttttt!” ;)


Saya lebih senang menyebut perjalanan ini dengan tema pulang kampung. Karena perjalanan ini, betul-betul membuat saya atau siapapun yang mengalaminya, merasa dekat sekali dengan Tuhan. Dan kembali kepada Tuhan merupakan makna pulang kampung yang sebenarnya, bukan?

Pulang kampung kali ini memang bukan perjalanan saya yang pertama. Tahun 1997, saat masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, saya sempat berkunjung ke Tanah Haram. Tapi entahlah, sejak mempersiapkan surat-menyurat, packing barang hingga tiba di dalam kabin pesawat, jantung saya berdetak tak seperti biasanya. Saya terlalu excited dan terharu seperti baru pertama kali pulang kampung rasanya.

Bersama 31 jemaah lainnya, Saya dan mama bertolak ke Jeddah dengan pesawat Royal Brunei. Pesawat ini mengharuskan kami untuk transit di Bandar Seri Begawan selama 2 jam sebelum akhirnya tiba di Jeddah. Sejak awal keberangkatan, ketua rombongan sudah menginfokan bahwa perjalanan ini akan mengambil route Jeddah-Mekkah-Madinah. Berarti besar kemungkinan kami akan mengambil miqot (niat umroh/berihram) di atas pesawat. Dan waktu transit selama 2 jam di Brunei, kami pergunakan untuk mengganti pakaian biasa dengan ihram, karena sulit dibayangkan jika harus berganti pakaian di dalam pesawat.

Sekitar 1 jam sebelum tiba di Jeddah, kami dikomando untuk mulai mengambil miqot, atau mulai melafazkan niat umroh. Dengan ihram di badan dan lafaz niat umroh, kami sudah wajib mengikuti syarat sahnya umroh. Seperti tak boleh memakai wewangian, tak boleh sikat gigi, tak boleh dandan, hingga tak boleh ada rambut yang berjatuhan,

Setelah lebih dari 10 jam perjalanan udara, sekitar pukul 16.00 waktu Jeddah. Kami pun tiba di King Abdul-Azis International Airport, Jeddah. Meski terlihat lebih mewah dibanding Bandara Soekarno-Hatta, saat menginjakkan kaki di sana, saya langsung rindu dengan keramahan tanah air. Keramahan alamnya yang hijau hingga keramahan masyarakatnya. Sejauh mata memandang, Jeddah hanya diselimuti hamparan pasir. Tanah di sana betul-betul tandus. Orang-orang di sana pun tak seramah orang Indonesia, bicara saja harus berteriak. Kadang saya sulit membedakan mana saatnya mereka marah mana yang bukan.

Jeddah menuju Mekkah memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan darat. Saya sebetulnya ingin sekali melihat dan mendokumentasikan suasana kota Jeddah, hanya saja mata dan kepala saya terasa berat sekali waktu itu, saya hanya sempat menyimpulkan bahwa pembangunan kota Jeddah terlihat jauh berbeda dari 14 tahun (jelas saja!). Sepanjang perjalanan menuju Mekkah, bangunan Mall, supermarket, outlet pakaian dan toko karpet berjajar rapi. Tentu saja pemandangan ini terlihat saat mata saya masih mampu terbuka, selebihnya saya tidak mengetahui banyak ada apa saja di kota Jeddah.

Lebih dari 4 jam perjalanan, bus kami pun akhirnya tiba juga di depan bangunan sembilan lantai dengan neon box yang berdiri tegap bertuliskan "al-Haram Hotel". Hotel inilah yang akan menjadi salah satu saksi perjalanan indah ini.

Al-Haram Hotel terletak persis di tengah-tengah keramaian pasar. Kalau saya tidak salah ingat, nama wilayahnya adalah Misfalah. Daerah ini hanya berjarak sekitar 100 meter ke Masjidil Haram. Sangat Strategis.

Saat tiba di kamar hotel, masih dengan baju ihram dan dalam keadaan miqot, saya pun harus menelan kekecewaan. Menstruasi saya yang sudah habis satu hari sebelum keberangkatan, harus datang lagi. Tentu saja itu semua memaksa saya untuk membatalkan miqot saya. Dan hal ini berarti pula, saya gagal menunaikan rangkaian ibadah umroh (tawaf dan sa’i) saya di malam pertama ini. Saya menenangkan diri dengan terus berdoa semoga selama 4 hari ke depan, masa menstruasi akan berkahir, sehingga saya bisa tetap menyusul menunaikan rangkaian umroh, meski harus melaksanakannya sendiri tanpa jemaah lainnya.

Iri sekali rasanya,ketika keesokan harinya, jemaah lain sibuk bercerita tentang kedahsyatannya melihat ka’bah dan berhasil menyelesaikan rangkaian ibadahnya di hari pertama di Mekkah. Sudah menyelesaikan rangkaian umroh di malam pertama, selanjutnya hanya mengkhusyu'kan diri dengan ibadah sunnah lainnya. Sedangkan saya, malam pertama di Mekkah hanya saya habiskan di kamar hotel, tidur.

Saya baru bisa menatap ka’bah secara langsung, di hari kedua saya di Mekkah. Itupun masih dalam keadaan belum suci. Ketika akhirnya saya bisa menatap keanggunan ka’bah secara langsung, saya hanya mampu sujud syukur lalu berdoa. Tidak seperti jemaah lain yang bisa langsung sepuasnya solat sunah hajat di depan Multazam (pintu ka’bah).

4 hari di Mekkah mungkin tidak cukup untuk menuangkan kerinduan saya pada tanah Haram ini. Tapi saya kira cukup untuk sedikit bercerita bagaimana kondisi terakhir Mekkah saat saya kunjungi kemarin.


Mekkah kini dengan 14 tahun lalu, tentulah mengalami banyak perbedaan. Negeri Arab dengan segala kekayaannya sangat mudah untuk menyulap tanah Mekkah menjadi begitu “maju”. Bagaimana tidak “maju”? jika kini sejauh mata memandang hanya bangunan tinggi semacam hotel dan apartemen yang mengelilingi Masjidil-Haram.

Tahukah anda jika jam tertinggi di dunia yang dulu terletak di London, kini menjadi milik kota Mekkah? Ya. Jika dulu kita mengenal Big Ben dengan ketinggian 100 meter diklaim sebagai jam tertinggi di dunia, kini Mekkah bahkan berhasil membangun jam dengan tinggi enam kali lipat dari tinggi Big Ben. Jam setinggi 600 Meter itu berdiri anggun persis di depan Main Entrance Masjidil haram. Jam itu terletak di antara 7 menara bangunan apartemen yang baru saja selesai dibangun. Apartemen tersebut dilengkapi dengan pusat perbelanjaan serta café-café termashyur dunia. Entah siapa pemilik ide di balik semua ini. Jujur saja kemewahan tadi menjadi begitu menyedihkan bagi saya. Bangunan mewah itu sungguh seperti ingin menandingi kemegahan Masjdil Haram. Meskipun sejatinya, tanpa “kemajuan” seperti tadi, Mekkah dan Masjidil Haram akan tetap memiliki kemegahan tersendiri di hati pengunjungnya.

Pembangunan pun tak terhenti di situ. Pemerintah Saudi pun terus memperluas area Masjidil Haram. Pasar serta perumahan warga yang letaknya dekat dengan Masjidil haram sudah dipastikan rata dengan tanah. Pasar Seng yang 14 tahun lalu menjadi tempat favorit saya membeli es krim pun tak ada lagi. Namun, tak seperti di Indonesia, ganti untung yang diterima masyarakat korban penggusuran pun tak kira-kira. Bisa mencapai 1 milyar per-bangunan. Sehingga kericuhan demonstrasi untuk menuntun ganti rugi pun bisa dipastikan tak akan ada.

Lepas berkhidmat menatap dan berdo'a di depan ka'bah, di hari kedua ini, kami berziarah mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Kota Mekkah. Kalau saya tidak salah ingat, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, bukit tempat persembunyian Rasul saat dikejar kaum kafir Quraisy. Tempat ziarah kedua adalah Jabal Nur, Bukit yang didalamnya terletak Goa Hira, tempat Rasul mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya. Tempat yang juga menjadi saksi keanggunan Siti Khadijah dalam balutan kesetiaannya mendampingi suaminya, Muhammad saw. Di kedua tempat ini kami tidak diizinkan turun oleh ketua rombongan kami. Suasana gurun yang penuh pasir serta hawa Mekkah yang panas di siang hari membuat ketua rombongan kami khawatir akan kesehatan para jema’ah.

Kami baru diizinkan turun dari bus yang kami tumpangi saat berkunjung ke Jabal Rahmah. Bukit yang diyakini tempat pertemuan Adam dan Hawa. Sulit menggambarkan bagaimana kondisi Jabal Rahmah saat ini. Tapi yang pasti sangat menyedihkan.

Tanpa mengurangi hormat saya pada catatan sejarah tempat tersebut, Jabal Rahmah kini tak ubahnya seperti tempat kumuh tak terawat. Kotor dan bau. Belum lagi banyak jema'ah dari berbagai macam Negara sengaja mencoret-coret dinding putih bangunan Jabal Rahmah. Tulisan yang kerap kali dituliskan adalah nama laki-laki dan perempuan, dengan tujuan agar mereka berjodoh. Ah! Saya atau mungkin juga Anda pasti berpikir, aksi pengkultusan terhadap sesuatu seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi juga di tanah haram. Padahal cukuplah kita menyadari tanah haram merupakan tanah penuh barokah yang bahkan berucap dalam hati pun keinginan kita mudah sekali terijabah.

Selepas mengunjungi Jabal Rahmah, kami ke Arafah. Tempat perkumpulan manusia dari berbagai ras dan suku bangsa saat musim haji tiba. Tentu saja, saat kami berkunjung ke sana, Arafah tampak sepi. Hanya terlihat tenda-tenda putih yang kerap kali digunakan jem’aah saat wukuf di musim haji.

Pembangunan pun tak hanya terjadi pada Masjidil Haram dan sekitarnya.Di Arafah, tanda-tanda bahwa pemerintah setempat sedang merekonstruksi pun jelas terlihat. Tak jauh dari lokasi wukuf, terlihat jejeran tiang-tiang pancang berukuran besar. Tiang-tiang itu merupakan cikal bakal project monorail yang akan menghubungkan Arafah, Mina dan Muzdalifah. Proyek diperkirakan akan rampung 5 tahun ke depan. Monorail ini diharapkan mampu meminimalisir kepadatan atau kemacetan yang selalu saja terjadi saat musim haji.

Satu hal lagi yang menarik pemandangan mata saya, kota Mekkah yang terkenal tandus, kini sudah banyak ditumbuhi tumbuhan hijau. Meski tak banyak wilayah yang diselimuti tumbuhan, tapi taman bunga dan rerumputan sudah bisa kita nikmati di tengah-tengah kota. Konon, untuk menghijaukan kota Mekkah, pemerintahnya harus mengimpor rumput dan bunga tadi dari Thailand dengan harga yang tidak murah. Ah! Nikmat Tuhan manakah yang mampu masyarakat Indonesia dustakan? Jika negaranya dianugerahi tanah subur dengan segala keindahan tumbuhan yang hijau.


Setelah hampir seharian berkeliling Kota Mekkah, kami ber-miqot lagi, miqot kali ini dilakukan di sebuah masjid di Ja’ronah. Bagi saya yang sejak kedatangan di Mekkah belum menuntaskan rangkaian umroh, maka miqot ini merupakan niat untuk berumroh wajib, sedangkan untuk jemaah lainnya, miqot ini dilakukan untuk berumroh sunnah.



Lagi-lagi saya harus menelan kesedihan. Miqot saya terpaksa dibatalkan karena menstruasi saya yang belum usai. Tidak terbayangkan penyesalannya jika nanti saya harus meninggalkan tanah haram tanpa menuntaskan umroh wajib. Sambil berdoa, saya terus memohon tobat kalau-kalau kejadian ini merupakan teguran dari kekhilafan saya.

Saya ingat, saat masih di tanah air, mama yang mengetahui jadwal mens saya bersamaan dengan jadwal keberangkatan umroh, ribut sekali memaksa saya mengkonsumsi ini itu untuk mempercepat siklus mens saya. Saya yang tidak bisa sabar menghadapi keribetan mama itu, sempat berucap dengan nada ketus :”Ya sudahlah mama, kalaupun nanti mens di sana, anggap saja jalan-jalan nemenin mama ibadah.”
Mengingat hal tersebut, saya tidak henti beristighfar memohon ampunan-Nya. Karena jika saja ucapan saya itu terkabul, entah bagaimana penyesalan saya. Bayangkan, jauh-jauh mengunjungi tanah haram, sedikitpun rangkaian umroh wajib tak mampu saya selesaikan. Saya tak berhenti berbisik kepada Tuhan : “Ya Allah, hamba mau menuntaskan rangkaian umroh hamba di tanah haram-Mu dengan sempurna”

Mintalah kepada-Ku, maka (pasti) akan kuperkenankan. Tuhan tak pernah mengingkari janji-Nya. Alhamdulillah, tepat di hari terakhir saya di Mekkah, mens saya berhenti. Di malam itu pula saya bisa menyelesaikan rangkaian umroh saya dengan (insya allah) sempurna. Allahu Akbar!
Tak ada yang lebih menyedihkan selain meninggalkan kehikmatan bercinta dengan pencipta. Namun. rela-tak rela, mau tak mau saya harus pergi meninggalkan kota dengan seribu kemuliaann ini, Mekkah al-Mukarromah. Sampai kapanpun, saya akan selalu rindu dengan kedahsyatan perasaan yang tidak mampu terlukiskan ini. Perasaan damai yang mampu membuat saya mengurai air mata tanpa sedikitpun saya tahu apa penyebabnya. Perasaan haru dan bahagia yang tak bernilai saat mampu menatap, mencium dan berdoa dengan sepuas hati di hadapan bangunan warisan Nabi Ibrahim as itu.

Demi Tuhan, ijinkan saya kembali dalam keadaan yang lebih baik Ya Ghafaar.

Wednesday, March 9, 2011

je a ja el ele

Jale ! siapa yang tahu makna dari kata tersebut? Jika Anda seorang pewarta tentunya sudah tak asing lagi dengan kata ini. Sejujurnya saya pun bingung jika harus menjabarkan makna Jale ini ke dalam sebuah kalimat sempurna. Mungkin karena saya masih seorang pewarta abal-abal. Sehingga jangankan mengerti hakikat dari Jale itu apa, mengungkapkan arti kata Jale saja rasanya sulit 

Well ! Sejauh ini yang saya ketahui terkait Jale adalah Uang!! Yap.. uang yang seringkali diterima pewarta dari berbagai narasumbernya. Baik setelah maupun sebelum peliputan. Saya mengenal istilah ini ketika saya berkesempatan menjadi pekerja kontrak sebagai seorang reporter di sebuah perusahaan televisi swasta.

Entah dari mana awalnya kata Jale ini bersumber. Yang pasti Jale ini terkadang menjadi satu compliment yang tak bisa dipisahkan dari profesi pewarta. Paling tidak begitulah asumsi saya. Oleh sebab itu, jangan heran jika dibeberapa tayangan berita televisi, seringkali diinformasikan jika wartawan tv “anu” dilarang menerima pemberian apapun dari narasumber. Informasi seperti ini dirancang dengan berbagai macam kalimat dan cara tentunya.

Perihal jale ini memang sudah lazim di dunia pewarta. Ketika pertama kali saya mengikuti training reporter di tv swasta tersebut pun, hal pertama yang diwanti-wanti sang pemimpin redaksi pun adalah larangan menerima Jale. Salah satu alasan kuatnya tentulah terkait dengan keindependensian berita yang dibuat pewarta.

Saat saya pun mulai terjun langsung ke lapangan. Fenomena jale ternyata memang dekat bahkan sangat dekat dengan profesi kami sebagai pewarta. Jale terkadang sungguh tak mengenal tempat. Jale ada di instansi-instansi pemerintah, di perusahaan swasta, di pribadi anggota DPR bahkan hingga ke tingkat RT sekalipun.

Ah! Tulisan ini sungguh tak bermaksud banyak mengungkap fenomena Jale dalam profesi kami. Apalagi mengungkap desas-desus si pemred saya tadi pernah menerima jale atau tidak. Biarlah Anda mencari tahu sendiri. Atau jika ada kesempatan, melamarlah sebagai seorang pewarta di satu perusahaan media. Mungkin akan membantu Anda mengetahui lebih dalam perihal fenomena Jale ini 

Saya sebetulnya hanya ingin sedikit mengeluarkan unek-unek saya terkait kejalean tadi. Semoga Anda tidak bosan apalagi sampai melengos membaca unek-unek saya ini.

Meski saya sudah dibekali dengan wanti-wanti sang pemred di awal training saya sebagai reporter dulu. Namun fakta di lapangan memang sulit sekali menghindari godaan dan cobaan dalam menerima jale. Si narasumber pun terkadang dengan berbagai macam cara memaksa kami untuk tetap menerima pemberiannya itu. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang bilang “Buat uang bensin”, “Buat uang pulsa”, “buat uang makan”, “buat tambahan bayar kosan” atau ada yang to the point bilang “Nih, biar kamu tulis yang bagus-bagus aja tentang saya”.

Godaan jale ini makin sulit sekali dihindari ketika saya bergabung di salah satu koran harian lokal. Orang-orang lokal biasanya masih haus publikasi, sehingga mereka rela mengeluarkan berapapun dan apapun demi dirinya, usahanya atau organisasinya di publikasikan.

Terlepas dari halam haram nya menerima uang jale. Terserah Anda mau meyakini yang mana. Hanya saja menurut saya, menerima jale sebagai compliment dari profesi pewarta sungguh tak seindah yang dibayangkan. Memang sih dompet kita jadi tak pernah kosong meski tanggal gajian masih lama. Tapi dengan uang jale, saya menjadi tak bisa istirahat tenang. Si narasumber yang merasa sudah memberikan uang tak jarang menjadi berkuasa terhadap dunia kita. Menghubungi hampir tak kenal waktu, mengatur berita yang akan saya tulis, bahkan tak berhenti sampai di situ. Saat berita tentang dirinya tayang atau terbit, gangguan-gangguan dari mereka pun belum berhenti. Mereka terus berkomentar mengenai isi berita yang salah atau kurang. Lebih dari sekedar 'MENYEBALKAN'!

Ketika hal itu terjadi, Apakah saya bisa mengelak atau melawan? Jelas saja Sulit. Terang saja saja sulit, la wong saya sudah memakan pemberian mereka secara senang hati. Dan mereka pun menurut saya tak sepenuhnya salah. Mereka sudah merasa memberikan saya uang pelicin, sehingga merasa bisa berbuat seenaknya terhadap dunia saya. Setidaknya untuk konten berita yang saya tulis.

Saya tak perlu jauh-jauh memikirkan keindependensian berita saya atau apalah yang terkait dengan Kode Etik Jurnslistik. Bagi saya ketika anda menerima jale maka bersiap-siaplah untuk tak bisa tidur nyenyak. Karena officially anda akan menjadi kacung si narasumber. Wallahua’lam 